Jalanan ibu kota bagaikan teman bertamasya setiap hari, mencari rupiah yang halal untuk keluarga di rumah. Tak ayal, deretan angkot begitu padat seperti antrean pelepas dahaga ketika didalamnya terisi penuh.
Tiba-tiba terdengar suara di ujung jalan yang mengatakan agar segera pergi. "Majukan angkotnya, dibelakang macet tuh!" ungkap pria penjual koran itu.
Aku, sang penghuni angkot itu. Entah harus merasa bahagia karena angkotku segera melaju atau malah sebaliknya. Aku sadar, antrean yang begitu panjang dan memakan waktu lama itu menguras tenaganya. Sejenak aku berpikir bahwa aku hanyalah sebagian kecil yang sangat membutuhkan jasanya.
Para sopir itu rela menunggu antrean, karena ia sadar harus membawa rupiah untuk keluarga di rumah. Ia bangun sangat pagi, bersahabat dengan dingin menusuk tulang. Siang hari, harus berpanasan dengan teriknya matahari. Malam hari, melawan kantuk yang amat menyiksa.
Semangat Sang Sopir meruntuhkan keluhnya. Berjuang demi rupiah, untuk keluarga terkasih.