![]() |
| dokumen pribadi Ditulis oleh Syintia Febrianti |
Jumat, 28 Oktober 2016
Perempuan Wajib Bisa Bela Diri!
Rabu, 26 Oktober 2016
Selamat Jalan Bapak
Setiap hembusan nafas pasti akan terhenti; yang hidup pasti akan mati. Bahwasanya jodoh, rezeki, dan maut itu sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ia seperti menikam siapapun setiap saat. Ia mengubah usia dengan detiknya yang terus menerus berputar. Aku bahkan tak mampu untuk mencegahnya.
Hari ini hatiku masih berduka, mengingat kemarin dan waktu yang lampau telah memanggil satu per satu pahlawan tanpa tanda jasaku, ya mereka adalah dosen-dosenku.
Alm. Bapak St. Kristyono, Alm. Bapak Bambang Purwanto, dan Alm. Bapak Yustiaman Barus dipanggil Sang Khalik ditahun ini, 2016. Duka yang mendalam menyelimuti hatiku, hatimu, dan hati kita.
Begitu banyak kenangan kami bersamamu, bahkan aku takkan pernah lupa. Saat Alm. Bapak St. Kristyono menegurku, karena aku melamun dijam pelajarannya sehingga membuatku belum selesai mencatat tulisannya dengan baik. "Belum selesai? Melamun saja daritadi saya liat," ucap Alm. Bapak Kristyono kepadaku.
Sebelum Alm. Bapak Bambang Purwanto pergi, masih ingat jelas dihari sebelumnya aku bertemu dengannya di ruang dosen, almarhum menyuruhku untuk masuk kedalam. "Gapapa masuk aja," ungkap alm. Bapak Bambang Purwanto sambil tersenyum.
Alm. Bapak Yustiaman Barus, kupikir masih belum lama diajarkan oleh beliau, tepat disemester 4. Banyak kata-kata motivasi dan cerita-ceritamu dulu di depan kelas.
Begitu banyak hal yang takkan terlupakan. Semoga ilmu yang engkau berikan takkan pernah terputus dan Allah jadikan sebagai pemberat amal.
Selamat jalan Bapak, tempat terbaik dari yang terbaik untukmu. Aamiin
Sabtu, 22 Oktober 2016
Semangat Sopir Pencari Rupiah
Jalanan ibu kota bagaikan teman bertamasya setiap hari, mencari rupiah yang halal untuk keluarga di rumah. Tak ayal, deretan angkot begitu padat seperti antrean pelepas dahaga ketika didalamnya terisi penuh.
Tiba-tiba terdengar suara di ujung jalan yang mengatakan agar segera pergi. "Majukan angkotnya, dibelakang macet tuh!" ungkap pria penjual koran itu.
Aku, sang penghuni angkot itu. Entah harus merasa bahagia karena angkotku segera melaju atau malah sebaliknya. Aku sadar, antrean yang begitu panjang dan memakan waktu lama itu menguras tenaganya. Sejenak aku berpikir bahwa aku hanyalah sebagian kecil yang sangat membutuhkan jasanya.
Para sopir itu rela menunggu antrean, karena ia sadar harus membawa rupiah untuk keluarga di rumah. Ia bangun sangat pagi, bersahabat dengan dingin menusuk tulang. Siang hari, harus berpanasan dengan teriknya matahari. Malam hari, melawan kantuk yang amat menyiksa.
Semangat Sang Sopir meruntuhkan keluhnya. Berjuang demi rupiah, untuk keluarga terkasih.
Minggu, 02 Oktober 2016
RINDU YANG TAK BERUJUNG
Jumat, 23 September 2016
Dia Telah Rentan dan Rapuh
Tetesan air hujan membasahi bumi, begitupun dengan tetesan air mataku. Tangisan itu tanpa henti-hentinya mengalir, hatiku tersayat-sayat, dan pedih tiada tara.
Video di branda facebookku telah melukai hatiku. Betapa tidak, seorang wanita memandikan orang tua itu dengan ganasnya, memukul, bahkan menyiram tanpa belas kasih. Sungguh tega! Tak berani aku melihat video tersebut hingga usai. Hatiku sudah pedih, mataku sudah basah, apalagi mulutku sudah tak sanggup berkata-kata.
Aku yakin, orang tua rentan itu adalah Ibu/Bapaknya. Namun, aku tidak bisa memastikan apakah itu Ibu/Bapaknya, karena aku sudah tak sanggup menontonnya. Yang jelas, orang tua itu sudah rapuh, rentan, dan butuh kasih sayang.
Terkadang ketika sudah besar, kita lupa akan perjuangan, cinta kasih, dan pengorbanan orang tua.
Semakin bertambahnya usia, maka semakin tua Ibu dan Bapak kita. Ketika mereka tua, ingatlah kenangan kita bersamanya. Dulu Ibu memandikan dengan penuh kasih sayang, menyuapi makanan dengan sabar, mengajarkan kita hal yang baru, membantu berjalan, dan masih banyak lagi cinta kasihnya. Lalu Ayah selalu bekerja keras agar kebutuhan anaknya terpenuhi, kerja banting tulang setiap hari, dan masih banyak lagi perjuangannya.
Apakah kita tega berlaku kasar kepadanya? Setelah begitu banyak hal yang mereka lakukan untuk kita. Ketika ia tua, rawatlah mereka sebaik mungkin, nescaya anak-anakmu akan menjaga kamu.
Rabu, 21 September 2016
MEDIA KRITIS YANG BERTANGGUNG JAWAB
Bagiku, media adalah jembatan informasi atau pesan untuk masyarakat agar tercipta komunikasi yang efektif. Media dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, media harus kritis dan bertanggung jawab untuk memberikan berita yang akurat, tidak menyebarkan kebohongan, dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Berita dibuat oleh wartawan. Wartawan membutuhkan perantara untuk menyebarkannya, begitupun sebaliknya; media membutuhkan wartawan untuk membuat berita. Oleh sebab itu, media dan wartawan merupakan satu kesatuan dalam menyebarkan informasi.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang awam sepertiku akan menjadi bagian dari mereka, tanpa latar belakang keluarga dibidang jurnalistik. Kini, aku terjun didalamnya dan berharap menjadi Pemilik Media.
Suatu hari, aku bertemu dengan pemilik media online Depokpos. Ia bernama Muhammad Ikhsan. Alasan terbentuknya media resmi Depokpos ialah ingin berkontribusi positif terhadap pembangunan di Kota Depok, baik melalui pemberitaan tentang giat pembangunannya atau dari segi kritik atas kinerja Pemerintah Kota yang dinilai masyarakat masih harus diperbaiki. Dengan harapkan bisa menjadi pengimbang pemberitaan yang jujur dan adil untuk mendukung pembangunan di Kota Depok tanpa menyampingkan sikap kritis.
Apalagi di zaman canggih dan modern ini, mengakses informasi semakin mudah, berita menyebar dengan cepat, media abal-abal bermunculan, masyarakat dengan mudahnya mempercayai isi berita tersebut, dan mereka tak menyadari bahwa berita yang disebarkan tersebut merupakan alat pembodohan publik dan ajang propaganda.
Oleh sebab itu, hal itu yang kian hari kian mendorong impianku menjadi Pemilik Media. Media yang kritis dari segi isi beritanya serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang sesuai fakta dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah jurnalistik.
Syintia Febrianti
Minggu, 18 September 2016
Senja
"Hari mulai gelap setelah matahari hendak terbenam itu senja."
Aku, penikmat senja.
Aku, penyuka senja.
Aku, penggemar senja.
Bagiku senja itu kedamaian. Ketika matahari terbenam dan mulai gelap, aku merasa ada ketenangan dan kesejukan. Maka dari itu, aku selalu menunggu senja datang.
Kemudian, bermalam lalu terlelap.
Selasa, 12 April 2016
Puisi
Impianku
Terseok-seok aku dahulu
Terkikis oleh kerasnya hidup
Berjuang menggapai asa
Berlari mengejar mimpi
Mimpiku kelak impianku cerah
Mimpiku kelak masa depanku terang
Tak ingin gelap seperti malam
Tak ingin jatuh seperti daun
kuselipkan doa untuk-Mu
Kuharap impianku terjaga bersama doa
Berpeluk erat bersamaku dengan-Mu
Dan mekar tepat pada waktunya
Senin, 11 April 2016
Lilin Temaniku
Matahari terbenam, malam pun berganti dengan siang. Kini malamku sunyi, malamku gelap tanpanya, iya tanpa listrik. Listrik padam saat sang surya terbenam. Lampu pun padam saat listrik padam. Kini, lilin siap temaniku, temani belajarku. Ujian Tengah Semester itu tetap ada dan tak akan mungkin pernah padam.
Sabtu, 09 April 2016
Cerita Fiksi
30-04-2015

