Jumat, 28 Oktober 2016

Perempuan Wajib Bisa Bela Diri!

dokumen pribadi

Ditulis oleh Syintia Febrianti

Perempuan identik dengan paras cantik dan lemah lembut. Terkadang kecantikan tak melulu harus dengan polesan makeup tebal dan berjalan bak model di catwalk. Karena pada hakekatnya, Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk.

Di zaman modern saat ini, tingkat kejahatan terhadap perempuan terbilang tinggi. Salah satu alasannya karena perempuan itu merupakan makhluk yang lemah dan posisinya lebih rendah dibandingkan laki-laki. Istilah pribahasa ada yang mengatakan bahwa perempuan selalu dibawah ketiak laki-laki. Tak heran, perempuan dijadikan objek kejahatan seksual kaum adam.

Namun, bagaimana jika perempuan-perempuan cantik jago bela diri pencak silat? Ya, seni bela diri adalah suatu kesenian yang timbul untuk mempertahankan atau membela diri. Sedangkan Pencak silat adalah suatu seni bela diri tradisional asal Indonesia yang memerlukan banyak konsentrasi. (Wikipedia)

Perempuan yang mengikuti seni bela diri mempunyai penilaian tersendiri, mereka akan terlihat tangguh dengan mengenakan baju pansi - baju khas seni bela diri pencak silat - saat latian berlangsung. Namun, akan tetap terlihat anggun dengan aura yang terpancar dengan sendirinya secara alami dan natural.

Perempuan jago silat itu jauh lebih percaya diri ketika berpergian, ia tak perlu membawa pengawal pribadi untuk melindunginya dari kejahatan di luar sana. Tapi mereka harus tetap berhati-hati dan waspada, karena kita tidak tahu bagaimana bentuk kejahatan yang akan terjadi.

Perempuan yang mengikuti olahraga seni bela diri pencak silat patut merasa bangga, karena selain belajar membela diri dengan teknik-teknik pencak silat, ia juga telah menjaga warisan budaya bangsa.

Jadi tunggu apa lagi, perempuan harus bisa bela diri sebelum kejahatan terjadi. Dan sebaiknya mereka belajar trik-trik ilmu bela diri pencak silat atau seni bela diri yang lain. Dengan begitu, laki-laki akan segan dan lebih menghormati kita sebagai kaum perempuan yang patut dijaga.

Rabu, 26 Oktober 2016

Selamat Jalan Bapak

Setiap hembusan nafas pasti akan terhenti; yang hidup pasti akan mati. Bahwasanya jodoh, rezeki, dan maut itu sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ia seperti menikam siapapun setiap saat. Ia mengubah usia dengan detiknya yang terus menerus berputar. Aku bahkan tak mampu untuk mencegahnya.

Hari ini hatiku masih berduka, mengingat kemarin dan waktu yang lampau telah memanggil satu per satu pahlawan tanpa tanda jasaku, ya mereka adalah dosen-dosenku.

Alm. Bapak St. Kristyono, Alm. Bapak Bambang Purwanto, dan Alm. Bapak Yustiaman Barus dipanggil Sang Khalik ditahun ini, 2016. Duka yang mendalam menyelimuti hatiku, hatimu, dan hati kita.

Begitu banyak kenangan kami bersamamu, bahkan aku takkan pernah lupa. Saat Alm. Bapak St. Kristyono menegurku, karena aku melamun dijam pelajarannya sehingga membuatku belum selesai mencatat tulisannya dengan baik. "Belum selesai? Melamun saja daritadi saya liat," ucap Alm. Bapak Kristyono kepadaku.

Sebelum Alm. Bapak Bambang Purwanto pergi, masih ingat jelas dihari sebelumnya aku bertemu dengannya di ruang dosen, almarhum menyuruhku untuk masuk kedalam. "Gapapa masuk aja," ungkap alm. Bapak Bambang Purwanto sambil tersenyum.

Alm. Bapak Yustiaman Barus, kupikir masih belum lama diajarkan oleh beliau, tepat disemester 4. Banyak kata-kata motivasi dan cerita-ceritamu dulu di depan kelas.

Begitu banyak hal yang takkan terlupakan. Semoga ilmu yang engkau berikan takkan pernah terputus dan Allah jadikan sebagai pemberat amal.
Selamat jalan Bapak, tempat terbaik dari yang terbaik untukmu. Aamiin

Sabtu, 22 Oktober 2016

Semangat Sopir Pencari Rupiah

Jalanan ibu kota bagaikan teman bertamasya setiap hari, mencari rupiah yang halal untuk keluarga di rumah. Tak ayal, deretan angkot begitu padat seperti antrean pelepas dahaga ketika didalamnya terisi penuh.

Tiba-tiba terdengar suara di ujung jalan yang mengatakan agar segera pergi. "Majukan angkotnya, dibelakang macet tuh!" ungkap pria penjual koran itu.

Aku, sang penghuni angkot itu. Entah harus merasa bahagia karena angkotku segera melaju atau malah sebaliknya. Aku sadar, antrean yang begitu panjang dan memakan waktu lama itu menguras tenaganya. Sejenak aku berpikir bahwa aku hanyalah sebagian kecil yang sangat membutuhkan jasanya.

Para sopir itu rela menunggu antrean, karena ia sadar harus membawa rupiah untuk keluarga di rumah. Ia bangun sangat pagi, bersahabat dengan dingin menusuk tulang. Siang hari, harus berpanasan dengan teriknya matahari. Malam hari, melawan kantuk yang amat menyiksa.

Semangat Sang Sopir meruntuhkan keluhnya. Berjuang demi rupiah, untuk keluarga terkasih.

Minggu, 02 Oktober 2016

RINDU YANG TAK BERUJUNG


Ilustrasi by kiokarma.com



Minggu Senja pukul 17:00

Langkah kaki Citra perlahan-lahan mulai menjauhi sudut halaman di seberang jalan itu, melewati lorong-lorong yang hampir gelap hingga ia tiba di tepi jalan yang padat akan lalu-lalang kendaraan. Sudut halaman yang ia singgahi itu menyimpan puluhan bahkan ratusan kenangan yang terjadi di masa silam. Rasanya tak mudah menerima kenyataan bahwa saat ini Citra hanya berjalan sendirian di bawah langit senja.
Citra adalah gadis yang beranjak dewasa, bertubuh mungil, dan berparas ayu. Ia mempunyai 4 orang sahabat diantaranya Fira si gadis cantik dan cerewet, Nada si gadis kurus, tinggi, dan cuek, Salwa si gadis pintar dan lugu, serta Yura si gadis ceria dan humoris. Mereka bersahabat sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama atau biasa dikenal dengan sebutan SMP.
            Kebersamaan Citra, Fira, Nada, Salwa, dan Yura dinamakan “Lima Bintang Senja”, yakni karakter yang berbeda-beda tapi saling melengkapi. Kebersamaan yang takkan pernah terlupakan, karena Citra masih menggenggam erat semua kenangan-kenangan itu.
            Sejak lulus dari SMP, semua nampak berbeda seiring dengan perbedaan sekolah dari SMP ke SMA. Tak ada lagi pulang sekolah bersama, bermain di akhir pekan pun agak sulit dengan berbagai macam alasan satu sama lain, dan untuk saling mengabari via sms atau yang lainnya pun jarang.
            Citra melamun di tepi jalan, ia mengingat janji yang pernah terucapkan. Janji yang mengatakan bahwa jarak tak akan pernah bisa memisahkan kita. Hingga pada akhirnya, ia harus bersahabat dengan rindu, karena rindu itu sungguh berat ia tak mampu melawannya dan hanya menyimpan kenangan indah dilubuk hati.

Tiba-tiba ada pria menepuk bahu Citra.
“Kamu sedang apa di sini sendirian, Cit?” kata pria tersebut.
“Emm, aku kebetulan lewat aja.” ucap Citra terbata-bata.
“Yaudah, ayo aku antar pulang. Tak baik gadis sepertimu pulang sendirian, apalagi hari mulai gelap.” ajak pria itu sambil menyuruh Citra naik ke belakang motornya.
“Baiklah, terima kasih ya.” balas Citra sambil menaiki motor itu.

Disepanjang perjalanan Citra hanya diam tak berkata sedikit pun, duduk mematung sambil melamun. Pria itu paham, ia tak bertanya apapun kepada Citra. Raut wajah Citra sudah menggambarkan bahwa ia sedang tak bersahabat kali ini.
Laju kendaraan kian memperlambat, hingga akhirnya berhenti di depan rumah Citra. Citra turun sambil mengucapkan terima kasih, pria itu pun pergi, dan Citra akhirnya masuk ke dalam.

Satu bulan kemudian
Hari demi hari berlalu.

“Mereka sepertinya terlihat bahagia. Aku pun bahagia jika mereka bahagia. Tak terhitung sudah berapa lama kita tak berjumpa, bahkan untuk mengirim pesan saja kita sudah tak mampu. Aku tahu mereka bahagia walau tanpa ada kebersamaan lagi diantara kita. Tapi, sejauh apapun jarak pasti doa akan sampai.” ucap Citra dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba dering handphonenya berbunyi, ada pesan masuk yang tak ia tahu dari siapa. Pesan itu berisi kata-kata indah, Sepucuk Surat Untuk Sahabat-Sahabatku, kata-kata itu sungguh memperjelas  tentang hubungan kami yang sudah lama tak saling bertukar kabar.

“MasyAllah, ini Salwa ya?” balas whatsapp Citra kepadanya.
“Iya nih, kamu apa kabar?” tanya Salwa.
“Alhamdulillah aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” ucap Citra lagi.

Ini adalah kali pertama mereka saling berbalas pesan, bahagia rasanya mengetahui perasaan sahabat sendiri. Apalagi kata-kata yang ia tuliskan sangatlah indah dan pasti akan membuat haru siapapun yang membacanya.
Sedih memang kehilangan sahabat yang dulu selalu ada, yang selalu berbagi cerita bersama dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menceritakannya, karena kata-kata yang terucap itu memberitahukan bahwa banyak sekali moment bahagia yang ingin disampaikan.
Hingga pada akhirnya Citra sadar, waktu yang paling berharga takkan mampu ia ulang kembali. Citra harus terus berjalan kedepan, tidak boleh melangkah mundur terlalu jauh. Citra hanya mampu menuliskan sebuah surat untuk sahabat-sahabatnya, berharap mereka membacanya, dan Citra berkata “See you on the TOP, Kawan! Aku akan merindukan kalian.”


Catatan Rinduku
Citra

Mungkin karena jarak dan kesibukan yang menyita waktu kebersamaan kita, sehingga untuk berjumpa hanyalah ekspetasi saja. Aku selalu ngingat indahnya cerita tentang persahabatan kita, kisah yang sudah kita jalin 5 tahun lamanya. Apakah kalian masih ingat tentang mimpi-mimpi kita? Iya, mimpi bersahabat selamanya hingga tua nanti. Kawan, mungkin kini kertasku sudah mulai usang. Tapi ingatlah, hatiku tak seusang kertasku. Aku selalu rindu untuk selalu berlima denganmu, dengan sahabat-sahabatku.

Jika dahulu lebih indah dari sekarang, aku memilih untuk tetap berada dimasa lalu bersamamu, sahabatku. Jika sekarang aku mati suri didalam benak kalian. Maka biarlah aku hidup kembali, walau hanya ada sisa ruang yang sangat kecil dihatimu. Karena aku takut benar-benar mati dalam ingatan kalian.
Aku tahu, aku tak sepenuhnya kehilangan kalian.

Tapi tak ingatkah kalian, kita mampu bertemu orang yang dicinta ‘Pacar’ sedangkan kita tak mampu untuk bertemu sekali saja. Kita setiap hari berbalas pesan dengannya, tapi kita tak mampu menanyakan kabar satu sama lain.

Mungkin aku egois, tak mau menghubungi kalian. Tapi inilah caraku untuk mengetahui apakah kalian masih peduli atau tidak sama sekali. Maaf jika aku keluar dari grup percakapan kita bersama. Karena menurutku, untuk apa ada di sana, ada namun tetap mati, sepi, dan tak sama seperti dulu lagi.

Jika dulu tak ada whatsapp kita mampu, kenapa sekarang tak mampu? Apa semakin canggih yang kita gunakan, maka semakin lama pesan yang akan kita kirim.
Sahabat, maafkan aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai tak tahu arah.

Sahabat, sejujurnya aku sangat merindukan kalian, seburuk apapun tingkah lakuku, aku tetap ingin selalu bersamamu. Sahabat, jika aku sudah bak orang asing dihidupmu, tolong katakan hal yang membuatku bahagia bahwa aku pernah menjadi sahabat setiamu dulu.
Kutunggu kalian dilain waktu!

Jumat, 23 September 2016

Dia Telah Rentan dan Rapuh

Tetesan air hujan membasahi bumi, begitupun dengan tetesan air mataku. Tangisan itu tanpa henti-hentinya mengalir, hatiku tersayat-sayat, dan pedih tiada tara.

Video di branda facebookku telah melukai hatiku. Betapa tidak, seorang wanita memandikan orang tua itu dengan ganasnya, memukul, bahkan menyiram tanpa belas kasih. Sungguh tega! Tak berani aku melihat video tersebut hingga usai. Hatiku sudah pedih, mataku sudah basah, apalagi mulutku sudah tak sanggup berkata-kata.

Aku yakin, orang tua rentan itu adalah Ibu/Bapaknya. Namun, aku tidak bisa memastikan apakah itu Ibu/Bapaknya, karena aku sudah tak sanggup menontonnya. Yang jelas, orang tua itu sudah rapuh, rentan, dan butuh kasih sayang.

Terkadang ketika sudah besar, kita lupa akan perjuangan, cinta kasih, dan pengorbanan orang tua.

Semakin bertambahnya usia, maka semakin tua Ibu dan Bapak kita. Ketika mereka tua, ingatlah kenangan kita bersamanya. Dulu Ibu memandikan dengan penuh kasih sayang, menyuapi makanan dengan sabar, mengajarkan kita hal yang baru, membantu berjalan, dan masih banyak lagi cinta kasihnya. Lalu Ayah selalu bekerja keras agar kebutuhan anaknya terpenuhi, kerja banting tulang setiap hari, dan masih banyak lagi perjuangannya.

Apakah kita tega berlaku kasar kepadanya? Setelah begitu banyak hal yang mereka lakukan untuk kita. Ketika ia tua, rawatlah mereka sebaik mungkin, nescaya anak-anakmu akan menjaga kamu.

Rabu, 21 September 2016

MEDIA KRITIS YANG BERTANGGUNG JAWAB

Bagiku, media adalah jembatan informasi atau pesan untuk masyarakat agar tercipta komunikasi yang efektif. Media dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, media harus kritis dan bertanggung jawab untuk memberikan berita yang akurat, tidak menyebarkan kebohongan, dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Berita dibuat oleh wartawan. Wartawan membutuhkan perantara untuk menyebarkannya, begitupun sebaliknya; media membutuhkan wartawan untuk membuat berita. Oleh sebab itu, media dan wartawan merupakan satu kesatuan dalam menyebarkan informasi.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang awam sepertiku akan menjadi bagian dari mereka, tanpa latar belakang keluarga dibidang jurnalistik. Kini, aku terjun didalamnya dan berharap menjadi Pemilik Media.

Suatu hari, aku bertemu dengan pemilik media online Depokpos. Ia bernama Muhammad Ikhsan. Alasan terbentuknya media resmi Depokpos ialah ingin berkontribusi positif terhadap pembangunan di Kota Depok, baik melalui pemberitaan tentang giat pembangunannya atau dari segi kritik atas kinerja Pemerintah Kota yang dinilai masyarakat masih harus diperbaiki. Dengan harapkan bisa menjadi pengimbang pemberitaan yang jujur dan adil untuk mendukung pembangunan di Kota Depok tanpa menyampingkan sikap kritis.

Apalagi di zaman canggih dan modern ini, mengakses informasi semakin mudah, berita menyebar dengan cepat, media abal-abal bermunculan, masyarakat dengan mudahnya mempercayai isi berita tersebut, dan mereka tak menyadari bahwa berita yang disebarkan tersebut merupakan alat pembodohan publik dan ajang propaganda.

Oleh sebab itu, hal itu yang kian hari kian mendorong impianku menjadi Pemilik Media. Media yang kritis dari segi isi beritanya serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang sesuai fakta dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

Syintia Febrianti

Minggu, 18 September 2016

Senja

"Hari mulai gelap setelah matahari hendak terbenam itu senja."

Aku, penikmat senja.
Aku, penyuka senja.
Aku, penggemar senja.

Bagiku senja itu kedamaian. Ketika matahari terbenam dan mulai gelap, aku merasa ada ketenangan dan kesejukan. Maka dari itu, aku selalu menunggu senja datang.
Kemudian, bermalam lalu terlelap.

Selasa, 12 April 2016

Puisi

Impianku

Terseok-seok aku dahulu
Terkikis oleh kerasnya hidup
Berjuang menggapai asa
Berlari mengejar mimpi

Mimpiku kelak impianku cerah
Mimpiku kelak masa depanku terang
Tak ingin gelap seperti malam
Tak ingin jatuh seperti daun

kuselipkan doa untuk-Mu
Kuharap impianku terjaga bersama doa
Berpeluk erat bersamaku dengan-Mu
Dan mekar tepat pada waktunya

Senin, 11 April 2016

Lilin Temaniku

Matahari terbenam, malam pun berganti dengan siang. Kini malamku sunyi, malamku gelap tanpanya, iya tanpa listrik. Listrik padam saat sang surya terbenam. Lampu pun padam saat listrik padam. Kini, lilin siap temaniku, temani belajarku. Ujian Tengah Semester itu tetap ada dan tak akan mungkin pernah padam.

Sabtu, 09 April 2016

Cerita Fiksi



Kutemukan Cinta di Sisa-sisa Hidupku

Pagi yang cerah, Diana sedang asyik memperhatikan sepasang kekasih yang tengah belajar sambil menunjukn kemesraannya, Diana merupakan siswi di Sekolah Menengah Atas PGRI Serpong, Diana duduk di kelas 11. Diana selalu tersenyum dan menikmati hidupnya.  Lalu, tiba-tiba seorang pria yang bernama Usmar mendekat ke arah Diana yang sedang asyik memperhatikan pasangan tersebut. Usmar juga siswa di sekolah yang sama dan sekelas dengan Diana.
            “Kamu ngapain sih, Diana?” ujar Usmar kepada Diana sambil kebingungan.
            “Ya menurut kamu aku sedang apa?” ucap Diana kepada Usmar dengan wajar sedikit bete karena Usmar datang mengganggunya yang sedang asyik.
            “Hmmm, kok kamu nyebelin sih, Na. Kan aku basa-basi biar kamu gak malu banget kalau ketahuan sama aku, kalau kamu lagi ngeliatin orang pacaran.” ujar Usmar sambil tertawa dan mengacak-acak rambut Diana.
            “Usmarrrrr, ih kamu menyebalkan sekali, dateng-dateng hanya meledek aku saja.” Ucap Diana sambil cemberut.
            “Maafkan aku, Diana. Aku tak bermaksud meledekmu.” Ujar Usmar dengan santainya sambil tersenyum.
            Kemudian Diana dan Usmar terdiam, lalu mereka berdua saling memperhatikan pasangan kekasih yang saat ini sedang berada di depan pandangan mereka. Sepasang kekasih yang sedang belajar itu membuat mereka terhanyut dan berkhayal ingin menikmati yang namanya “Pacaran”. Tiba-tiba Usmar berkata kepada Diana.
            “Hmm, asyik yah jika seperti mereka.” ucap Usmar.
            “Iya, aku berharap bisa menemukan pria yang bisa berbagi denganku, bisa belajar bersama seperti mereka, bisa jalan-jalan berdua, ah pokoknya bisa bareng-bareng deh.” ujar Diana dengan suara penuh harapan.
            “Aku pun berharap sepertimu Diana, dapat menemukannya.” ucap Usmar kepada Diana.
            “Yuk temuin-temuin.” ucap Diana sambil meledek dan tertawa.
            “Yah diledekin balik, ngomong-ngomong kayanya kita berdua doang nih yang jomblo, sedih amat dah ah.” ucap Usmar sambil garuk-garuk kepala.
            “Yeh lebay amat sih! Bukan kita berdua doang kali, karena kebetulan cuma ada kita dan mereka, ya berarti cuma kita yang jomblo dan yang lainnya lagi bahagia dengan calon pacarnya mungkin.” ujar Diana.
            “Iya pada punya gebetan yah, kita mah apa atuh ya, Na.” ucap Usmar sambil bersedih.
            “Usmar, aku punya ide nih!” ucap Diana dengan penuh semangat.
            “Apa? Kamu punya ide apa? Bagus gak idenya?” ujar Usmar penasaran.
            “Bagus dong, ideku ini sangat cemerlang.” ucap Diana yang ingin membuat Usmar penasaran dengan idenya.
            “Apa, Diana? Ah, kamu bikin aku penasaran aja sih!” ujar Usmar sedikit bete.
            “Jadi, kita buat permainan yuk! Kan kita sama-sama gak punya pacar nih, gimana kalau kita pacaran. Kamu jadi pacar aku dan aku jadi pacar kamu. Gimana?” tanya Diana kepada Usmar.
            “Hmmm, gimana ya? Duh tapi aku takut fans-fans aku sedih nih, karena aku punya pacar.” ucap Usmar sambil tertawa.
            “Apaan sih, Mar. Gaya banget banyak fans, pacar aja gak punya apalagi fans.” ucap Diana dengan nada penuh kejengkelan.
            “Kamu mah selalu gitu, meremehkan saja, eh tapi memang benar sih gak punya. Aku hanya membual.” ucap Usmar dengan nada sedih.
            “Emang kenyataannya gitu kan.” ujar Diana.
            “Iya, Diana. Yaudah boleh juga permainannya. Lagian juga selama beberapa bulan kedepan aku gak ada apa-apa.” ucap Usmar mengiyakan permainan Diana.
            “Oke, kita pacaran ya sekarang. Terus dimulai har ini kita pacarannya. Selamat hari pertama jadian.” ujar Diana sambil tersenyum ke Usmar.
            Dimulailah hari pertama mereka jadian, kemudian setelah membuat kesepakatan untuk berpacaran, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Usmar mengantar Diana pulang ke Rumah.
Ketika malam hari membuat Diana terbangun tepat pukul 12 malam. Diana selalu terbangun ditengah malam dan selalu menangis menatap perihnya luka yang ia alami. Diana merupakan anak Broken Home. Diana tinggal dengan ayahnya dan ia mempunyai seorang adik laki-laki. Tetapi, adik laki-lakinya ikut dengan sang ibu.
Diana terlihat tegar dan menerima semua kenyataan pahit dalam kehidupan keluarganya. Hidup dengan keadaan orangtua yang sudah bercerai membuatnya begitu terpukul. Namun, kenyataan itu membuatnya rapuh. Tetapi kerapuhan itu tak akan membuatnya kembali sempurna.
Dahulu ketika semuanya masih indah dalam kehidupan Diana, Diana mempunyai seorang kekasih bernama Rama. Rama adalah pria yang sangat dicintai oleh Diana. Sebelum Diana bersekolah di SMA PGRI Serpong, Diana bersekolah di SMA Sudirman Jakarta. Dulu sebelum orangtua Diana bercerai, mereka tinggal di Jakarta.
Diana dan Rama berpacaran sejak kelas 1 SMA, mereka berpacaran selama 1 tahun. Tetapi ketika ingin merayakan anniversary yang ke-1 tahun, Rama menghianati Diana. Tanpa diduga, ketika Diana ingin membelikan kado dan kue anniversarry mereka. Diana melihat Rama bersama wanita lain di mall.
Sejak saat itu Diana memutuskan untuk menyudahi hubungan yang telah mereka bina selama 1 tahun itu. Diana sudah tak mau lagi bersama dengan seorang penghianat yang telah menyakitinya.
Tak lama setelah penghianatan yang dilakukan oleh Rama, Diana juga harus menerima kenyataan pahit lagi bahwa ia harus merelakan keputusan orangtuanya yang ingin bercerai. luka batin yang dialami Diana membuatnya menangis sepanjang malam.
Kemudian setelah semua yang terjadi kepada Diana, ia memilih untuk tinggal bersama ayahnya dan menetap di Bandung. Diana melanjutkan sekolah di sana ketika kenaikan kelas 2 SMA. Sekarang Diana sudah kelas 3 SMA.

Ketika pagi hari pun datang.
            “Tok tok tok tok, selamat pagi, Diana.” suara Usmar terdengar jelas di balik pintu rumah Diana.
            “Hai, Usmar. Kamu datang pagi sekali sih! aku belum siap tau, aku masih harus merapikan rambut aku yang indah ini.” ucap Diana sambil tertawa dan menyisirkan rambutnya.
            “kalau begitu, kamu masuk saja ya. Kamu ke dalam saja, di dalam ada ayah aku kok. Bercerita-ceritalah dengannya. kalau begitu mari aku antar kamu bertemu dengan ayahku.” Diana pun menarik tangan Usmar.
            “Selamat pagi, Om.” ucap Usmar ke Ayah Diana yang sedang membaca koran dan meminum kopi.
            Ditarulah kopi dan koran itu, lalu ayah Diana berkata “Iya pagi, ini siapa Diana? Kamu teman Diana di sekolah ya? Siapa namamu?”.
            “Saya Usmar, Om. Iya teman sekelas Diana di sekolah.” jawab Usmar.
            “Oh kalau begitu silahkan duduk, Nak.” kata ayah Diana.
            “Yaudah kalian berdua selamat bercerita-cerita ya. Diana mau rapihin rambut dulu nih, udah siang takut telat. Byeee Byeee. Tunggu sebentar ya Usmar.” ucap Diana sambil berlari ke kamar.
            Saat itu mulailah ayah Diana dan Usmar bercakap-cakap. Ayah Diana menanyakan tentang keluarga Usmar dan mereka saling bercanda ria. Tiba-tiba Diana datang dengan rambut yang sudah tertata rapih.
            “Hai kalian, serius banget sih ngombrolnya. Aku udahan nih, yuk makan dulu cepatan nanti kita terlambat.” ajak Diana.
            setelah makan pagi bersama akhirnya Diana dan Usmar berangkat ke sekolah bersama-sama. Usmar membonceng Diana dengan sepeda motornya.

Setibanya di sekolah dan memasuki kelas
            “Untung kita tidak terlambat ya. Huh, di sana macet sekali.” ucap Diana sambil menatap Usmar.
            “Kita tidak akan terlambat, Diana. Kan aku sudah mahir mengendarai motor dan melaju seperti pembalat.” ucap Usmar sambil tertawa terbahak-bahak.
            Diana hanya menatap sinis Usmar. Kemudian, pelajaran pun di mulai dengan penuh canda tawa dan keseriusan mereka dalam belajar.

Bel istirahat pun berbunyi
            “Yuk, kita ke kantik Diana yang cantik seperti bidadariku.” ujar Usmar sambil merayu Diana.
            “Yuk penggombal, aku juga lapar nih. Cepat-cepat.” Diana pun menarik tangan Usmar.
            Mereka pun akhirnya makan di kantik dan dilanjutkan belajar di kelas dan menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Bel pun berbunyi.
            “Diana, kita jalan-jalan ke mall yuk.” ajak Usmar.
            “Hmmm boleh, aku juga malas pulang. pasti ayah belum pulang juga. Yuk jalan-jalan.” jawab Diana.
            Kemudian mereka pun jalan-jalan ke salah satu mall di Bandung. Mereka makan di sana dan Usmar membelikan es krim untuk Diana. Mereka pun asyik menikmati es krim dan duduk di taman dekat mall itu. Usmar menempelkan es krim di hidung Diana, kemudian mereka saling bercanda-canda.
            Sungguh kemesraan dan canda tawa bersama Usmar membuat Diana melupakan beban kesedihan yang dulu pernah ia rasakan. Dalam benak Diana sekarang sudah tak ada kesedihan yang mendalam. Sekarang hanya ada kebahagiaan yang ia rasakan, bersama usmar dalam permainan ini membuatnya semakin dalam cinta yang tumbuh.
            Sungguh ini bukan seperti permainan biasa, Diana begitu mencintai Usmar. Permaianan ini membuatnya tak berdaya melawan kenyataan bahwa Diana mencintai Usmar dengan tulus.
            Usmar pun merasakan hal yang sama, ia juga memcintai Diana dengan semua hal yang mereka lakukan bersama-sama. Kebersamaan itu membuat kisah cinta yang semula hanya permainan, menjadi kenyataan cinta yang sesungguhnya.
            Hari demi hari telah mereka lalui, bulan bertemu bulan juga telah mereka lewati. tak pernah ada rasa bosan sedikit pun, tak ada rasa gundah saat mereka bersama, kebersamaan mereka lalui dengan penuh cinta. Akhirnya apa yang selama ini mereka inginkan terjadi juga.
            Keinginan yang mereka selalu inginkan, keinginan mempunyai seorang kekasih yang bisa bersama-sama menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.

Hari Sabtu siang di rumah Diana
            “Tok tok tok, permisi.” suara pria mengetuk pintu rumah Diana.
            “Iya, siapa ya?” Diana membuka pintu dan melihat sesosok pria bernama Rama dan Diana pun tercengang.
            “Hai, Diana. Apa kabarmu? Aku rindu denganmu.” ucap Rama dengan halus.
            “Hmmm, untuk apa kau kemari? Kamu tahu darimana alamatku? Aku benci padamu, kumohon jangan menggangguku lagi, aku sudah bahagia sekarang tanpamu.” jawab Diana dengan nada keras.
            “Aku tak ingin mengganggumu, Di. Aku hanya rindu padamu dan ingin meminta maaf lagi padamu. Aku meminta alamatmu pada Sonya, ia tahu alamatmu di Bandung. Maafkan aku Diana.” ujar Rama sambil memohon.
            “Hmmm, kamu tahu rasanya jadi sepertiku? Kenapa kamu tega sekali Rama. Ah sudahlah, terima kasih karena kamu sudah membantuku menembukan cinta sejati yang sesungguhnya.” ucap Diana dengan wajah senyum sinis.
            “Iya, Di. Maafkan aku, aku ingin bercerita banyak denganmu. Kumohon izinkan aku masuk ke dalam.” pinta Rama.
            “Hmmm, baiklah silakan masuk.” jawab Diana.
            Akhirnya, Rama pun mulai menceritakan tentang keadaannya dan meminta maaf kepada Diana. Rama menyesal telah mengkhiananti Diana. Tapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, Rama tak berharap Diana akan kembali padanya. Rama pun tahu bahwa ada pria yang telah bersama Diana dan membuatnya bahagia.
            Kini Diana dan Rama berteman baik, tak ada rasa benci yang dirasakan oleh Diana lagi. Ketika mereka sedang berbicara di dalam, tiba-tiba Usmar datang k rumah Diana dan melihat Diana sedang berduaan dengan pria lain. Usmar pun salah paham dan marah kepada Diana.
            “Usmar, jangan pergi. Kamu salah paham.” ucap Diana sambil menangis.
            “Usmar, Kumohon kamu harus mendengarkan penjelasanku.” ujar Diana sambil menarik tangan Usmar.
            “Sudah, aku tak mau tahu.” ucap Usmar.
            “Sayang, kamu sayang sama aku kan? Tolong dengarkan aku.” pinta Diana sambil menangis.
            Kemudian, Usmar pun mendengarkan penjelasan Diana. Lalu mereka bertiga akhirnya berbicara satu sama lain. Diana menceritakan masa lalunya. Lalu, ketika semuanya sudah selesai dan tak ada kesalah pahaman lagi. Akhirnya, Rama pamit untuk pulang ke Jakarta. Usmar pun meminta maaf kepada Diana dan memeluk Diana erat. Lalu, Usmar pun izin pulang.

Pada malam hari, Diana sedang menerima telpon dari Usmar
            “Besok kita lari pagi yuk?” ajak Usmar
            “Yuk, besok janjian di taman ya seperti biasa.” jawab Diana.
            “Oke, I love u, Diana. Don’t leave me!” ucap Usmar.
            “Iya, I love u too, Darling. In sha Allah aku tak ingin meninggalkanmu, tetapi jika Tuhan berkehendak lain...” Diana memutuskan pembicaraan kata itu.
            “Baiklah, selamat malam, sampai jumpa esok.” sambung Diana.

Keesokan harinya
            Usmar telah menunggu Diana di taman yang biasa mereka datangin, 2 jam telah berlalu dan Diana tak juga datang. Hingga pada siang hari, Usmar tak sabar karena Diana tak kunjung datang juga. Usmar memutuskan untuk menjemput Diana di rumah.
            Setibanya di rumah Diana, ada bendera kuning terpasang jelas di sudut Rumah Diana. Usmar kaget dan mulai memasuki rumah Diana. Usmar melihat ayah Diana sedang menangis, terlihat ada seorang perempuan seperti ibu Diana, dan adik laki-laki Diana.
Usmar menghampiri mereka dan kemudian bertanya “Siapakah yang meninggal itu, Pak?” tanya Usmar.
“Nak, Diana sudah tiada di dunia ini lagi, Diana sudah tenang disisi-Nya, semoga kamu mengikhlaskannya ya.” ucap ayah Diana.
Usmar pun menangis dan tak menyangka bahwa Diana begitu cepat meninggalkannya. Diana wafat pada hari Minggu, 26 April 2015. Diana mengidap penyakit Bronkitis menahun dan Diana wafat karena terjatuh di kamar mandi ketika hendak mandi dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Usmar.
Mungkin Diana tak pernah menceritakan penyakitnya pada Usmar, karena ia yakin kalau ia menceritakannya pada Usmar, maka Usmar tak akan mau mengajaknya jalan-jalan setiap hari, bermain layang-layang, lari-larian, dan masih banyak lagi. Pasti Usmar akan menyuruhnya untuk beristirahat dan tak boleh kelelahan.
Maka hari-hari yang dilalui bersama Usmar adalah kesempatan Diana untuk menikmati sisa hidupnya bersama seseorang yang dapat membuatnya bahagia. Diana sudah tenang disisi-Nya tanpa merasakan sakit yang ia alami di dunia ini.

30-04-2015

SELESAI