Jumat, 23 September 2016

Dia Telah Rentan dan Rapuh

Tetesan air hujan membasahi bumi, begitupun dengan tetesan air mataku. Tangisan itu tanpa henti-hentinya mengalir, hatiku tersayat-sayat, dan pedih tiada tara.

Video di branda facebookku telah melukai hatiku. Betapa tidak, seorang wanita memandikan orang tua itu dengan ganasnya, memukul, bahkan menyiram tanpa belas kasih. Sungguh tega! Tak berani aku melihat video tersebut hingga usai. Hatiku sudah pedih, mataku sudah basah, apalagi mulutku sudah tak sanggup berkata-kata.

Aku yakin, orang tua rentan itu adalah Ibu/Bapaknya. Namun, aku tidak bisa memastikan apakah itu Ibu/Bapaknya, karena aku sudah tak sanggup menontonnya. Yang jelas, orang tua itu sudah rapuh, rentan, dan butuh kasih sayang.

Terkadang ketika sudah besar, kita lupa akan perjuangan, cinta kasih, dan pengorbanan orang tua.

Semakin bertambahnya usia, maka semakin tua Ibu dan Bapak kita. Ketika mereka tua, ingatlah kenangan kita bersamanya. Dulu Ibu memandikan dengan penuh kasih sayang, menyuapi makanan dengan sabar, mengajarkan kita hal yang baru, membantu berjalan, dan masih banyak lagi cinta kasihnya. Lalu Ayah selalu bekerja keras agar kebutuhan anaknya terpenuhi, kerja banting tulang setiap hari, dan masih banyak lagi perjuangannya.

Apakah kita tega berlaku kasar kepadanya? Setelah begitu banyak hal yang mereka lakukan untuk kita. Ketika ia tua, rawatlah mereka sebaik mungkin, nescaya anak-anakmu akan menjaga kamu.

Rabu, 21 September 2016

MEDIA KRITIS YANG BERTANGGUNG JAWAB

Bagiku, media adalah jembatan informasi atau pesan untuk masyarakat agar tercipta komunikasi yang efektif. Media dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, media harus kritis dan bertanggung jawab untuk memberikan berita yang akurat, tidak menyebarkan kebohongan, dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Berita dibuat oleh wartawan. Wartawan membutuhkan perantara untuk menyebarkannya, begitupun sebaliknya; media membutuhkan wartawan untuk membuat berita. Oleh sebab itu, media dan wartawan merupakan satu kesatuan dalam menyebarkan informasi.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang awam sepertiku akan menjadi bagian dari mereka, tanpa latar belakang keluarga dibidang jurnalistik. Kini, aku terjun didalamnya dan berharap menjadi Pemilik Media.

Suatu hari, aku bertemu dengan pemilik media online Depokpos. Ia bernama Muhammad Ikhsan. Alasan terbentuknya media resmi Depokpos ialah ingin berkontribusi positif terhadap pembangunan di Kota Depok, baik melalui pemberitaan tentang giat pembangunannya atau dari segi kritik atas kinerja Pemerintah Kota yang dinilai masyarakat masih harus diperbaiki. Dengan harapkan bisa menjadi pengimbang pemberitaan yang jujur dan adil untuk mendukung pembangunan di Kota Depok tanpa menyampingkan sikap kritis.

Apalagi di zaman canggih dan modern ini, mengakses informasi semakin mudah, berita menyebar dengan cepat, media abal-abal bermunculan, masyarakat dengan mudahnya mempercayai isi berita tersebut, dan mereka tak menyadari bahwa berita yang disebarkan tersebut merupakan alat pembodohan publik dan ajang propaganda.

Oleh sebab itu, hal itu yang kian hari kian mendorong impianku menjadi Pemilik Media. Media yang kritis dari segi isi beritanya serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang sesuai fakta dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

Syintia Febrianti

Minggu, 18 September 2016

Senja

"Hari mulai gelap setelah matahari hendak terbenam itu senja."

Aku, penikmat senja.
Aku, penyuka senja.
Aku, penggemar senja.

Bagiku senja itu kedamaian. Ketika matahari terbenam dan mulai gelap, aku merasa ada ketenangan dan kesejukan. Maka dari itu, aku selalu menunggu senja datang.
Kemudian, bermalam lalu terlelap.