Hari demi hari berlalu, mereka
sepertinya terlihat bahagia. Aku pun bahagia jika mereka bahagia. Tak terhitung
sudah berapa lama kami tak berjumpa, bahkan untuk mengirim pesan saja kami
sudah tak mampu. Aku tahu mereka bahagia walau tanpa ada kebersamaan lagi
diantara kita. Tapi, sejauh apapun jarak pasti doa akan sampai.
Siang
itu dering handphoneku berbunyi, ada
pesan masuk yang tak kutahu dari siapa. Pesan itu berisi kata-kata indah,
Sepucuk Surat Untuk Sahabat-Sahabatku, kata-kata itu sungguh memperjelas tentang hubungan kami yang sudah lama tak
saling bertukar kabar.
“MasyAllah, ini kamu ya?”
balasku kepadanya.
“Iya nih, kamu apa
kabar?” tanyanya kepadaku.
Ini
adalah kali pertama kami saling berbalas pesan, bahagia rasanya mengetahui
perasaan sahabatku sendiri. Apalagi kata-kata yang ia tuliskan sangatlah indah
dan pasti akan membuat haru siapapun yang membacanya.
Sedih
memang kehilangan sahabat yang dulu selalu ada, yang selalu berbagi cerita
bersama dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menceritakannya, karena
kata-kata yang terucap itu memberitahukan bahwa banyak sekali moment bahagia yang ingin disampaikan.
Jika
dahulu lebih indah dari sekarang, aku memilih untuk tetap berada dimasa lalu
bersamamu, bersama sahabat-sahabatku. Jika sekarang aku mati suri didalam benak
kalian. Maka biarlah aku hidup kembali, walau hanya ada sisa ruang yang sangat
kecil dihatimu. Karena aku takut benar-benar mati dalam ingatan kalian.
Aku
tahu, aku tak sepenuhnya kehilangan kalian. Mungkin karena jarak dan kesibukan
yang menyita waktu kebersamaan kita, sehingga untuk berjumpa hanyalah ekspetasi
saja.
Tapi
tak ingatkah kalian, kita mampu bertemu orang yang dicinta ‘Pacar’ sedangkan
kita tak mampu untuk bertemu sekali saja. Kita setiap hari berbalas pesan
dengannya, tapi kita tak mampu menanyakan kabar satu sama lain.
Mungkin
aku egois, tak mau menghubungi kalian. Tapi inilah caraku untuk mengetahui
apakah kalian masih peduli atau tidak sama sekali. Maaf jika aku keluar dari
grup percakapan kita bersama. Karena menurutku, untuk apa ada di sana, ada
namun tetap mati. Sepi dan tak sama seperti dulu lagi.
Jika
dulu tak ada whatsapp kita mampu, kenapa sekarang tak mampu? Apa semakin
canggih yang kita gunakan, maka semakin lama pesan yang akan kita kirim.
Sahabat,
maafkan aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai tak tahu arah.
Sahabat,
sejujurnya aku sangat merindukan kalian, seburuk apapun tingkah lakuku, aku
tetap ingin selalu bersamamu.
Sahabat,
jika aku sudah bak orang asing dihidupmu, tolong katakan hal yang membuatku
bahagia bahwa aku pernah menjadi sahabat setiamu dulu.
Salam cinta dari sahabatmu dulu,
Syintia Febrianti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar