Sabtu, 09 April 2016

Rindu Itu Kian Menusuk


Hari demi hari berlalu, mereka sepertinya terlihat bahagia. Aku pun bahagia jika mereka bahagia. Tak terhitung sudah berapa lama kami tak berjumpa, bahkan untuk mengirim pesan saja kami sudah tak mampu. Aku tahu mereka bahagia walau tanpa ada kebersamaan lagi diantara kita. Tapi, sejauh apapun jarak pasti doa akan sampai.

Siang itu dering handphoneku berbunyi, ada pesan masuk yang tak kutahu dari siapa. Pesan itu berisi kata-kata indah, Sepucuk Surat Untuk Sahabat-Sahabatku, kata-kata itu sungguh memperjelas  tentang hubungan kami yang sudah lama tak saling bertukar kabar.
“MasyAllah, ini kamu ya?” balasku kepadanya.
“Iya nih, kamu apa kabar?” tanyanya kepadaku.
Ini adalah kali pertama kami saling berbalas pesan, bahagia rasanya mengetahui perasaan sahabatku sendiri. Apalagi kata-kata yang ia tuliskan sangatlah indah dan pasti akan membuat haru siapapun yang membacanya.
Sedih memang kehilangan sahabat yang dulu selalu ada, yang selalu berbagi cerita bersama dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menceritakannya, karena kata-kata yang terucap itu memberitahukan bahwa banyak sekali moment bahagia yang ingin disampaikan.
Jika dahulu lebih indah dari sekarang, aku memilih untuk tetap berada dimasa lalu bersamamu, bersama sahabat-sahabatku. Jika sekarang aku mati suri didalam benak kalian. Maka biarlah aku hidup kembali, walau hanya ada sisa ruang yang sangat kecil dihatimu. Karena aku takut benar-benar mati dalam ingatan kalian.
Aku tahu, aku tak sepenuhnya kehilangan kalian. Mungkin karena jarak dan kesibukan yang menyita waktu kebersamaan kita, sehingga untuk berjumpa hanyalah ekspetasi saja.
Tapi tak ingatkah kalian, kita mampu bertemu orang yang dicinta ‘Pacar’ sedangkan kita tak mampu untuk bertemu sekali saja. Kita setiap hari berbalas pesan dengannya, tapi kita tak mampu menanyakan kabar satu sama lain.
Mungkin aku egois, tak mau menghubungi kalian. Tapi inilah caraku untuk mengetahui apakah kalian masih peduli atau tidak sama sekali. Maaf jika aku keluar dari grup percakapan kita bersama. Karena menurutku, untuk apa ada di sana, ada namun tetap mati. Sepi dan tak sama seperti dulu lagi.
Jika dulu tak ada whatsapp kita mampu, kenapa sekarang tak mampu? Apa semakin canggih yang kita gunakan, maka semakin lama pesan yang akan kita kirim.
Sahabat, maafkan aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai tak tahu arah.
Sahabat, sejujurnya aku sangat merindukan kalian, seburuk apapun tingkah lakuku, aku tetap ingin selalu bersamamu.
Sahabat, jika aku sudah bak orang asing dihidupmu, tolong katakan hal yang membuatku bahagia bahwa aku pernah menjadi sahabat setiamu dulu.
Salam cinta dari sahabatmu dulu,


Syintia Febrianti

 

Tidak ada komentar: