Minggu, 02 Oktober 2016

RINDU YANG TAK BERUJUNG


Ilustrasi by kiokarma.com



Minggu Senja pukul 17:00

Langkah kaki Citra perlahan-lahan mulai menjauhi sudut halaman di seberang jalan itu, melewati lorong-lorong yang hampir gelap hingga ia tiba di tepi jalan yang padat akan lalu-lalang kendaraan. Sudut halaman yang ia singgahi itu menyimpan puluhan bahkan ratusan kenangan yang terjadi di masa silam. Rasanya tak mudah menerima kenyataan bahwa saat ini Citra hanya berjalan sendirian di bawah langit senja.
Citra adalah gadis yang beranjak dewasa, bertubuh mungil, dan berparas ayu. Ia mempunyai 4 orang sahabat diantaranya Fira si gadis cantik dan cerewet, Nada si gadis kurus, tinggi, dan cuek, Salwa si gadis pintar dan lugu, serta Yura si gadis ceria dan humoris. Mereka bersahabat sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama atau biasa dikenal dengan sebutan SMP.
            Kebersamaan Citra, Fira, Nada, Salwa, dan Yura dinamakan “Lima Bintang Senja”, yakni karakter yang berbeda-beda tapi saling melengkapi. Kebersamaan yang takkan pernah terlupakan, karena Citra masih menggenggam erat semua kenangan-kenangan itu.
            Sejak lulus dari SMP, semua nampak berbeda seiring dengan perbedaan sekolah dari SMP ke SMA. Tak ada lagi pulang sekolah bersama, bermain di akhir pekan pun agak sulit dengan berbagai macam alasan satu sama lain, dan untuk saling mengabari via sms atau yang lainnya pun jarang.
            Citra melamun di tepi jalan, ia mengingat janji yang pernah terucapkan. Janji yang mengatakan bahwa jarak tak akan pernah bisa memisahkan kita. Hingga pada akhirnya, ia harus bersahabat dengan rindu, karena rindu itu sungguh berat ia tak mampu melawannya dan hanya menyimpan kenangan indah dilubuk hati.

Tiba-tiba ada pria menepuk bahu Citra.
“Kamu sedang apa di sini sendirian, Cit?” kata pria tersebut.
“Emm, aku kebetulan lewat aja.” ucap Citra terbata-bata.
“Yaudah, ayo aku antar pulang. Tak baik gadis sepertimu pulang sendirian, apalagi hari mulai gelap.” ajak pria itu sambil menyuruh Citra naik ke belakang motornya.
“Baiklah, terima kasih ya.” balas Citra sambil menaiki motor itu.

Disepanjang perjalanan Citra hanya diam tak berkata sedikit pun, duduk mematung sambil melamun. Pria itu paham, ia tak bertanya apapun kepada Citra. Raut wajah Citra sudah menggambarkan bahwa ia sedang tak bersahabat kali ini.
Laju kendaraan kian memperlambat, hingga akhirnya berhenti di depan rumah Citra. Citra turun sambil mengucapkan terima kasih, pria itu pun pergi, dan Citra akhirnya masuk ke dalam.

Satu bulan kemudian
Hari demi hari berlalu.

“Mereka sepertinya terlihat bahagia. Aku pun bahagia jika mereka bahagia. Tak terhitung sudah berapa lama kita tak berjumpa, bahkan untuk mengirim pesan saja kita sudah tak mampu. Aku tahu mereka bahagia walau tanpa ada kebersamaan lagi diantara kita. Tapi, sejauh apapun jarak pasti doa akan sampai.” ucap Citra dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba dering handphonenya berbunyi, ada pesan masuk yang tak ia tahu dari siapa. Pesan itu berisi kata-kata indah, Sepucuk Surat Untuk Sahabat-Sahabatku, kata-kata itu sungguh memperjelas  tentang hubungan kami yang sudah lama tak saling bertukar kabar.

“MasyAllah, ini Salwa ya?” balas whatsapp Citra kepadanya.
“Iya nih, kamu apa kabar?” tanya Salwa.
“Alhamdulillah aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” ucap Citra lagi.

Ini adalah kali pertama mereka saling berbalas pesan, bahagia rasanya mengetahui perasaan sahabat sendiri. Apalagi kata-kata yang ia tuliskan sangatlah indah dan pasti akan membuat haru siapapun yang membacanya.
Sedih memang kehilangan sahabat yang dulu selalu ada, yang selalu berbagi cerita bersama dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menceritakannya, karena kata-kata yang terucap itu memberitahukan bahwa banyak sekali moment bahagia yang ingin disampaikan.
Hingga pada akhirnya Citra sadar, waktu yang paling berharga takkan mampu ia ulang kembali. Citra harus terus berjalan kedepan, tidak boleh melangkah mundur terlalu jauh. Citra hanya mampu menuliskan sebuah surat untuk sahabat-sahabatnya, berharap mereka membacanya, dan Citra berkata “See you on the TOP, Kawan! Aku akan merindukan kalian.”


Catatan Rinduku
Citra

Mungkin karena jarak dan kesibukan yang menyita waktu kebersamaan kita, sehingga untuk berjumpa hanyalah ekspetasi saja. Aku selalu ngingat indahnya cerita tentang persahabatan kita, kisah yang sudah kita jalin 5 tahun lamanya. Apakah kalian masih ingat tentang mimpi-mimpi kita? Iya, mimpi bersahabat selamanya hingga tua nanti. Kawan, mungkin kini kertasku sudah mulai usang. Tapi ingatlah, hatiku tak seusang kertasku. Aku selalu rindu untuk selalu berlima denganmu, dengan sahabat-sahabatku.

Jika dahulu lebih indah dari sekarang, aku memilih untuk tetap berada dimasa lalu bersamamu, sahabatku. Jika sekarang aku mati suri didalam benak kalian. Maka biarlah aku hidup kembali, walau hanya ada sisa ruang yang sangat kecil dihatimu. Karena aku takut benar-benar mati dalam ingatan kalian.
Aku tahu, aku tak sepenuhnya kehilangan kalian.

Tapi tak ingatkah kalian, kita mampu bertemu orang yang dicinta ‘Pacar’ sedangkan kita tak mampu untuk bertemu sekali saja. Kita setiap hari berbalas pesan dengannya, tapi kita tak mampu menanyakan kabar satu sama lain.

Mungkin aku egois, tak mau menghubungi kalian. Tapi inilah caraku untuk mengetahui apakah kalian masih peduli atau tidak sama sekali. Maaf jika aku keluar dari grup percakapan kita bersama. Karena menurutku, untuk apa ada di sana, ada namun tetap mati, sepi, dan tak sama seperti dulu lagi.

Jika dulu tak ada whatsapp kita mampu, kenapa sekarang tak mampu? Apa semakin canggih yang kita gunakan, maka semakin lama pesan yang akan kita kirim.
Sahabat, maafkan aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai tak tahu arah.

Sahabat, sejujurnya aku sangat merindukan kalian, seburuk apapun tingkah lakuku, aku tetap ingin selalu bersamamu. Sahabat, jika aku sudah bak orang asing dihidupmu, tolong katakan hal yang membuatku bahagia bahwa aku pernah menjadi sahabat setiamu dulu.
Kutunggu kalian dilain waktu!

Tidak ada komentar: