Minggu Senja pukul 17:00
Langkah
kaki Citra perlahan-lahan mulai menjauhi sudut halaman di seberang jalan itu, melewati
lorong-lorong yang hampir gelap hingga ia tiba di tepi jalan yang padat akan
lalu-lalang kendaraan. Sudut halaman yang ia singgahi itu menyimpan puluhan
bahkan ratusan kenangan yang terjadi di masa silam. Rasanya tak mudah menerima
kenyataan bahwa saat ini Citra hanya berjalan sendirian di bawah langit senja.
Citra adalah gadis yang beranjak dewasa, bertubuh mungil,
dan berparas ayu. Ia mempunyai 4 orang sahabat diantaranya Fira si gadis cantik
dan cerewet, Nada si gadis kurus, tinggi, dan cuek, Salwa si gadis pintar dan
lugu, serta Yura si gadis ceria dan humoris. Mereka bersahabat sejak di bangku
Sekolah Menengah Pertama atau biasa dikenal dengan sebutan SMP.
Kebersamaan Citra, Fira, Nada, Salwa, dan Yura dinamakan
“Lima Bintang Senja”, yakni karakter yang berbeda-beda tapi saling melengkapi.
Kebersamaan yang takkan pernah terlupakan, karena Citra masih menggenggam erat
semua kenangan-kenangan itu.
Sejak lulus dari SMP, semua nampak berbeda seiring dengan
perbedaan sekolah dari SMP ke SMA. Tak ada lagi pulang sekolah bersama, bermain
di akhir pekan pun agak sulit dengan berbagai macam alasan satu sama lain, dan
untuk saling mengabari via sms atau yang lainnya pun jarang.
Citra melamun di tepi jalan, ia mengingat janji yang
pernah terucapkan. Janji yang mengatakan bahwa jarak tak akan pernah bisa
memisahkan kita. Hingga pada akhirnya, ia harus bersahabat dengan rindu, karena
rindu itu sungguh berat ia tak mampu melawannya dan hanya menyimpan kenangan
indah dilubuk hati.
Tiba-tiba ada pria
menepuk bahu Citra.
“Kamu sedang apa di
sini sendirian, Cit?” kata pria tersebut.
“Emm, aku kebetulan
lewat aja.” ucap Citra terbata-bata.
“Yaudah,
ayo aku antar pulang. Tak baik gadis sepertimu pulang sendirian, apalagi hari
mulai gelap.” ajak pria itu sambil menyuruh Citra naik ke belakang motornya.
“Baiklah,
terima kasih ya.” balas Citra sambil menaiki motor itu.
Disepanjang
perjalanan Citra hanya diam tak berkata sedikit pun, duduk mematung sambil melamun.
Pria itu paham, ia tak bertanya apapun kepada Citra. Raut wajah Citra sudah
menggambarkan bahwa ia sedang tak bersahabat kali ini.
Laju kendaraan kian memperlambat, hingga akhirnya
berhenti di depan rumah Citra. Citra turun sambil mengucapkan terima kasih,
pria itu pun pergi, dan Citra akhirnya masuk ke dalam.
Satu bulan kemudian
Hari demi hari berlalu.
“Mereka
sepertinya terlihat bahagia. Aku pun bahagia jika mereka bahagia. Tak terhitung
sudah berapa lama kita tak berjumpa, bahkan untuk mengirim pesan saja kita
sudah tak mampu. Aku tahu mereka bahagia walau tanpa ada kebersamaan lagi
diantara kita. Tapi, sejauh apapun jarak pasti doa akan sampai.” ucap Citra dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba dering
handphonenya berbunyi, ada pesan
masuk yang tak ia tahu dari siapa. Pesan itu berisi kata-kata indah, Sepucuk
Surat Untuk Sahabat-Sahabatku, kata-kata itu sungguh memperjelas tentang hubungan kami yang sudah lama tak
saling bertukar kabar.
“MasyAllah, ini Salwa ya?” balas whatsapp Citra kepadanya.
“Iya nih, kamu apa kabar?” tanya Salwa.
“Alhamdulillah aku baik-baik saja,
bagaimana denganmu?” ucap Citra lagi.
Ini adalah kali pertama mereka saling
berbalas pesan, bahagia rasanya mengetahui perasaan sahabat sendiri. Apalagi
kata-kata yang ia tuliskan sangatlah indah dan pasti akan membuat haru siapapun
yang membacanya.
Sedih memang kehilangan sahabat yang
dulu selalu ada, yang selalu berbagi cerita bersama dan membutuhkan waktu yang
panjang untuk menceritakannya, karena kata-kata yang terucap itu memberitahukan
bahwa banyak sekali moment bahagia
yang ingin disampaikan.
Hingga pada akhirnya Citra sadar, waktu
yang paling berharga takkan mampu ia ulang kembali. Citra harus terus berjalan
kedepan, tidak boleh melangkah mundur terlalu jauh. Citra hanya mampu
menuliskan sebuah surat untuk sahabat-sahabatnya, berharap mereka membacanya,
dan Citra berkata “See you on the TOP, Kawan! Aku akan merindukan kalian.”
Catatan Rinduku
Citra
Mungkin
karena jarak dan kesibukan yang menyita waktu kebersamaan kita, sehingga untuk
berjumpa hanyalah ekspetasi saja. Aku selalu
ngingat indahnya cerita tentang persahabatan kita, kisah yang sudah kita jalin
5 tahun lamanya. Apakah kalian masih ingat tentang mimpi-mimpi kita? Iya, mimpi
bersahabat selamanya hingga tua nanti. Kawan, mungkin kini kertasku sudah mulai
usang. Tapi ingatlah, hatiku tak seusang kertasku. Aku selalu rindu untuk
selalu berlima denganmu, dengan sahabat-sahabatku.
Jika
dahulu lebih indah dari sekarang, aku memilih untuk tetap berada dimasa lalu
bersamamu, sahabatku. Jika sekarang aku mati suri didalam
benak kalian. Maka biarlah aku hidup kembali, walau hanya ada sisa ruang yang
sangat kecil dihatimu. Karena aku takut benar-benar mati dalam ingatan kalian.
Aku
tahu, aku tak sepenuhnya kehilangan kalian.
Tapi
tak ingatkah kalian, kita mampu bertemu orang yang dicinta ‘Pacar’ sedangkan
kita tak mampu untuk bertemu sekali saja. Kita setiap hari berbalas pesan
dengannya, tapi kita tak mampu menanyakan kabar satu sama lain.
Mungkin
aku egois, tak mau menghubungi kalian. Tapi inilah caraku untuk mengetahui
apakah kalian masih peduli atau tidak sama sekali. Maaf jika aku keluar dari
grup percakapan kita bersama. Karena menurutku, untuk apa ada di sana, ada
namun tetap mati, sepi, dan tak sama seperti dulu lagi.
Jika
dulu tak ada whatsapp kita mampu, kenapa sekarang tak mampu? Apa semakin
canggih yang kita gunakan, maka semakin lama pesan yang akan kita kirim.
Sahabat,
maafkan aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai tak tahu arah.
Sahabat,
sejujurnya aku sangat merindukan kalian, seburuk apapun tingkah lakuku, aku
tetap ingin selalu bersamamu. Sahabat, jika aku sudah bak orang asing
dihidupmu, tolong katakan hal yang membuatku bahagia bahwa aku pernah menjadi
sahabat setiamu dulu.
Kutunggu
kalian dilain waktu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar