Sabtu, 09 April 2016

Cerita Fiksi



Kutemukan Cinta di Sisa-sisa Hidupku

Pagi yang cerah, Diana sedang asyik memperhatikan sepasang kekasih yang tengah belajar sambil menunjukn kemesraannya, Diana merupakan siswi di Sekolah Menengah Atas PGRI Serpong, Diana duduk di kelas 11. Diana selalu tersenyum dan menikmati hidupnya.  Lalu, tiba-tiba seorang pria yang bernama Usmar mendekat ke arah Diana yang sedang asyik memperhatikan pasangan tersebut. Usmar juga siswa di sekolah yang sama dan sekelas dengan Diana.
            “Kamu ngapain sih, Diana?” ujar Usmar kepada Diana sambil kebingungan.
            “Ya menurut kamu aku sedang apa?” ucap Diana kepada Usmar dengan wajar sedikit bete karena Usmar datang mengganggunya yang sedang asyik.
            “Hmmm, kok kamu nyebelin sih, Na. Kan aku basa-basi biar kamu gak malu banget kalau ketahuan sama aku, kalau kamu lagi ngeliatin orang pacaran.” ujar Usmar sambil tertawa dan mengacak-acak rambut Diana.
            “Usmarrrrr, ih kamu menyebalkan sekali, dateng-dateng hanya meledek aku saja.” Ucap Diana sambil cemberut.
            “Maafkan aku, Diana. Aku tak bermaksud meledekmu.” Ujar Usmar dengan santainya sambil tersenyum.
            Kemudian Diana dan Usmar terdiam, lalu mereka berdua saling memperhatikan pasangan kekasih yang saat ini sedang berada di depan pandangan mereka. Sepasang kekasih yang sedang belajar itu membuat mereka terhanyut dan berkhayal ingin menikmati yang namanya “Pacaran”. Tiba-tiba Usmar berkata kepada Diana.
            “Hmm, asyik yah jika seperti mereka.” ucap Usmar.
            “Iya, aku berharap bisa menemukan pria yang bisa berbagi denganku, bisa belajar bersama seperti mereka, bisa jalan-jalan berdua, ah pokoknya bisa bareng-bareng deh.” ujar Diana dengan suara penuh harapan.
            “Aku pun berharap sepertimu Diana, dapat menemukannya.” ucap Usmar kepada Diana.
            “Yuk temuin-temuin.” ucap Diana sambil meledek dan tertawa.
            “Yah diledekin balik, ngomong-ngomong kayanya kita berdua doang nih yang jomblo, sedih amat dah ah.” ucap Usmar sambil garuk-garuk kepala.
            “Yeh lebay amat sih! Bukan kita berdua doang kali, karena kebetulan cuma ada kita dan mereka, ya berarti cuma kita yang jomblo dan yang lainnya lagi bahagia dengan calon pacarnya mungkin.” ujar Diana.
            “Iya pada punya gebetan yah, kita mah apa atuh ya, Na.” ucap Usmar sambil bersedih.
            “Usmar, aku punya ide nih!” ucap Diana dengan penuh semangat.
            “Apa? Kamu punya ide apa? Bagus gak idenya?” ujar Usmar penasaran.
            “Bagus dong, ideku ini sangat cemerlang.” ucap Diana yang ingin membuat Usmar penasaran dengan idenya.
            “Apa, Diana? Ah, kamu bikin aku penasaran aja sih!” ujar Usmar sedikit bete.
            “Jadi, kita buat permainan yuk! Kan kita sama-sama gak punya pacar nih, gimana kalau kita pacaran. Kamu jadi pacar aku dan aku jadi pacar kamu. Gimana?” tanya Diana kepada Usmar.
            “Hmmm, gimana ya? Duh tapi aku takut fans-fans aku sedih nih, karena aku punya pacar.” ucap Usmar sambil tertawa.
            “Apaan sih, Mar. Gaya banget banyak fans, pacar aja gak punya apalagi fans.” ucap Diana dengan nada penuh kejengkelan.
            “Kamu mah selalu gitu, meremehkan saja, eh tapi memang benar sih gak punya. Aku hanya membual.” ucap Usmar dengan nada sedih.
            “Emang kenyataannya gitu kan.” ujar Diana.
            “Iya, Diana. Yaudah boleh juga permainannya. Lagian juga selama beberapa bulan kedepan aku gak ada apa-apa.” ucap Usmar mengiyakan permainan Diana.
            “Oke, kita pacaran ya sekarang. Terus dimulai har ini kita pacarannya. Selamat hari pertama jadian.” ujar Diana sambil tersenyum ke Usmar.
            Dimulailah hari pertama mereka jadian, kemudian setelah membuat kesepakatan untuk berpacaran, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Usmar mengantar Diana pulang ke Rumah.
Ketika malam hari membuat Diana terbangun tepat pukul 12 malam. Diana selalu terbangun ditengah malam dan selalu menangis menatap perihnya luka yang ia alami. Diana merupakan anak Broken Home. Diana tinggal dengan ayahnya dan ia mempunyai seorang adik laki-laki. Tetapi, adik laki-lakinya ikut dengan sang ibu.
Diana terlihat tegar dan menerima semua kenyataan pahit dalam kehidupan keluarganya. Hidup dengan keadaan orangtua yang sudah bercerai membuatnya begitu terpukul. Namun, kenyataan itu membuatnya rapuh. Tetapi kerapuhan itu tak akan membuatnya kembali sempurna.
Dahulu ketika semuanya masih indah dalam kehidupan Diana, Diana mempunyai seorang kekasih bernama Rama. Rama adalah pria yang sangat dicintai oleh Diana. Sebelum Diana bersekolah di SMA PGRI Serpong, Diana bersekolah di SMA Sudirman Jakarta. Dulu sebelum orangtua Diana bercerai, mereka tinggal di Jakarta.
Diana dan Rama berpacaran sejak kelas 1 SMA, mereka berpacaran selama 1 tahun. Tetapi ketika ingin merayakan anniversary yang ke-1 tahun, Rama menghianati Diana. Tanpa diduga, ketika Diana ingin membelikan kado dan kue anniversarry mereka. Diana melihat Rama bersama wanita lain di mall.
Sejak saat itu Diana memutuskan untuk menyudahi hubungan yang telah mereka bina selama 1 tahun itu. Diana sudah tak mau lagi bersama dengan seorang penghianat yang telah menyakitinya.
Tak lama setelah penghianatan yang dilakukan oleh Rama, Diana juga harus menerima kenyataan pahit lagi bahwa ia harus merelakan keputusan orangtuanya yang ingin bercerai. luka batin yang dialami Diana membuatnya menangis sepanjang malam.
Kemudian setelah semua yang terjadi kepada Diana, ia memilih untuk tinggal bersama ayahnya dan menetap di Bandung. Diana melanjutkan sekolah di sana ketika kenaikan kelas 2 SMA. Sekarang Diana sudah kelas 3 SMA.

Ketika pagi hari pun datang.
            “Tok tok tok tok, selamat pagi, Diana.” suara Usmar terdengar jelas di balik pintu rumah Diana.
            “Hai, Usmar. Kamu datang pagi sekali sih! aku belum siap tau, aku masih harus merapikan rambut aku yang indah ini.” ucap Diana sambil tertawa dan menyisirkan rambutnya.
            “kalau begitu, kamu masuk saja ya. Kamu ke dalam saja, di dalam ada ayah aku kok. Bercerita-ceritalah dengannya. kalau begitu mari aku antar kamu bertemu dengan ayahku.” Diana pun menarik tangan Usmar.
            “Selamat pagi, Om.” ucap Usmar ke Ayah Diana yang sedang membaca koran dan meminum kopi.
            Ditarulah kopi dan koran itu, lalu ayah Diana berkata “Iya pagi, ini siapa Diana? Kamu teman Diana di sekolah ya? Siapa namamu?”.
            “Saya Usmar, Om. Iya teman sekelas Diana di sekolah.” jawab Usmar.
            “Oh kalau begitu silahkan duduk, Nak.” kata ayah Diana.
            “Yaudah kalian berdua selamat bercerita-cerita ya. Diana mau rapihin rambut dulu nih, udah siang takut telat. Byeee Byeee. Tunggu sebentar ya Usmar.” ucap Diana sambil berlari ke kamar.
            Saat itu mulailah ayah Diana dan Usmar bercakap-cakap. Ayah Diana menanyakan tentang keluarga Usmar dan mereka saling bercanda ria. Tiba-tiba Diana datang dengan rambut yang sudah tertata rapih.
            “Hai kalian, serius banget sih ngombrolnya. Aku udahan nih, yuk makan dulu cepatan nanti kita terlambat.” ajak Diana.
            setelah makan pagi bersama akhirnya Diana dan Usmar berangkat ke sekolah bersama-sama. Usmar membonceng Diana dengan sepeda motornya.

Setibanya di sekolah dan memasuki kelas
            “Untung kita tidak terlambat ya. Huh, di sana macet sekali.” ucap Diana sambil menatap Usmar.
            “Kita tidak akan terlambat, Diana. Kan aku sudah mahir mengendarai motor dan melaju seperti pembalat.” ucap Usmar sambil tertawa terbahak-bahak.
            Diana hanya menatap sinis Usmar. Kemudian, pelajaran pun di mulai dengan penuh canda tawa dan keseriusan mereka dalam belajar.

Bel istirahat pun berbunyi
            “Yuk, kita ke kantik Diana yang cantik seperti bidadariku.” ujar Usmar sambil merayu Diana.
            “Yuk penggombal, aku juga lapar nih. Cepat-cepat.” Diana pun menarik tangan Usmar.
            Mereka pun akhirnya makan di kantik dan dilanjutkan belajar di kelas dan menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Bel pun berbunyi.
            “Diana, kita jalan-jalan ke mall yuk.” ajak Usmar.
            “Hmmm boleh, aku juga malas pulang. pasti ayah belum pulang juga. Yuk jalan-jalan.” jawab Diana.
            Kemudian mereka pun jalan-jalan ke salah satu mall di Bandung. Mereka makan di sana dan Usmar membelikan es krim untuk Diana. Mereka pun asyik menikmati es krim dan duduk di taman dekat mall itu. Usmar menempelkan es krim di hidung Diana, kemudian mereka saling bercanda-canda.
            Sungguh kemesraan dan canda tawa bersama Usmar membuat Diana melupakan beban kesedihan yang dulu pernah ia rasakan. Dalam benak Diana sekarang sudah tak ada kesedihan yang mendalam. Sekarang hanya ada kebahagiaan yang ia rasakan, bersama usmar dalam permainan ini membuatnya semakin dalam cinta yang tumbuh.
            Sungguh ini bukan seperti permainan biasa, Diana begitu mencintai Usmar. Permaianan ini membuatnya tak berdaya melawan kenyataan bahwa Diana mencintai Usmar dengan tulus.
            Usmar pun merasakan hal yang sama, ia juga memcintai Diana dengan semua hal yang mereka lakukan bersama-sama. Kebersamaan itu membuat kisah cinta yang semula hanya permainan, menjadi kenyataan cinta yang sesungguhnya.
            Hari demi hari telah mereka lalui, bulan bertemu bulan juga telah mereka lewati. tak pernah ada rasa bosan sedikit pun, tak ada rasa gundah saat mereka bersama, kebersamaan mereka lalui dengan penuh cinta. Akhirnya apa yang selama ini mereka inginkan terjadi juga.
            Keinginan yang mereka selalu inginkan, keinginan mempunyai seorang kekasih yang bisa bersama-sama menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.

Hari Sabtu siang di rumah Diana
            “Tok tok tok, permisi.” suara pria mengetuk pintu rumah Diana.
            “Iya, siapa ya?” Diana membuka pintu dan melihat sesosok pria bernama Rama dan Diana pun tercengang.
            “Hai, Diana. Apa kabarmu? Aku rindu denganmu.” ucap Rama dengan halus.
            “Hmmm, untuk apa kau kemari? Kamu tahu darimana alamatku? Aku benci padamu, kumohon jangan menggangguku lagi, aku sudah bahagia sekarang tanpamu.” jawab Diana dengan nada keras.
            “Aku tak ingin mengganggumu, Di. Aku hanya rindu padamu dan ingin meminta maaf lagi padamu. Aku meminta alamatmu pada Sonya, ia tahu alamatmu di Bandung. Maafkan aku Diana.” ujar Rama sambil memohon.
            “Hmmm, kamu tahu rasanya jadi sepertiku? Kenapa kamu tega sekali Rama. Ah sudahlah, terima kasih karena kamu sudah membantuku menembukan cinta sejati yang sesungguhnya.” ucap Diana dengan wajah senyum sinis.
            “Iya, Di. Maafkan aku, aku ingin bercerita banyak denganmu. Kumohon izinkan aku masuk ke dalam.” pinta Rama.
            “Hmmm, baiklah silakan masuk.” jawab Diana.
            Akhirnya, Rama pun mulai menceritakan tentang keadaannya dan meminta maaf kepada Diana. Rama menyesal telah mengkhiananti Diana. Tapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, Rama tak berharap Diana akan kembali padanya. Rama pun tahu bahwa ada pria yang telah bersama Diana dan membuatnya bahagia.
            Kini Diana dan Rama berteman baik, tak ada rasa benci yang dirasakan oleh Diana lagi. Ketika mereka sedang berbicara di dalam, tiba-tiba Usmar datang k rumah Diana dan melihat Diana sedang berduaan dengan pria lain. Usmar pun salah paham dan marah kepada Diana.
            “Usmar, jangan pergi. Kamu salah paham.” ucap Diana sambil menangis.
            “Usmar, Kumohon kamu harus mendengarkan penjelasanku.” ujar Diana sambil menarik tangan Usmar.
            “Sudah, aku tak mau tahu.” ucap Usmar.
            “Sayang, kamu sayang sama aku kan? Tolong dengarkan aku.” pinta Diana sambil menangis.
            Kemudian, Usmar pun mendengarkan penjelasan Diana. Lalu mereka bertiga akhirnya berbicara satu sama lain. Diana menceritakan masa lalunya. Lalu, ketika semuanya sudah selesai dan tak ada kesalah pahaman lagi. Akhirnya, Rama pamit untuk pulang ke Jakarta. Usmar pun meminta maaf kepada Diana dan memeluk Diana erat. Lalu, Usmar pun izin pulang.

Pada malam hari, Diana sedang menerima telpon dari Usmar
            “Besok kita lari pagi yuk?” ajak Usmar
            “Yuk, besok janjian di taman ya seperti biasa.” jawab Diana.
            “Oke, I love u, Diana. Don’t leave me!” ucap Usmar.
            “Iya, I love u too, Darling. In sha Allah aku tak ingin meninggalkanmu, tetapi jika Tuhan berkehendak lain...” Diana memutuskan pembicaraan kata itu.
            “Baiklah, selamat malam, sampai jumpa esok.” sambung Diana.

Keesokan harinya
            Usmar telah menunggu Diana di taman yang biasa mereka datangin, 2 jam telah berlalu dan Diana tak juga datang. Hingga pada siang hari, Usmar tak sabar karena Diana tak kunjung datang juga. Usmar memutuskan untuk menjemput Diana di rumah.
            Setibanya di rumah Diana, ada bendera kuning terpasang jelas di sudut Rumah Diana. Usmar kaget dan mulai memasuki rumah Diana. Usmar melihat ayah Diana sedang menangis, terlihat ada seorang perempuan seperti ibu Diana, dan adik laki-laki Diana.
Usmar menghampiri mereka dan kemudian bertanya “Siapakah yang meninggal itu, Pak?” tanya Usmar.
“Nak, Diana sudah tiada di dunia ini lagi, Diana sudah tenang disisi-Nya, semoga kamu mengikhlaskannya ya.” ucap ayah Diana.
Usmar pun menangis dan tak menyangka bahwa Diana begitu cepat meninggalkannya. Diana wafat pada hari Minggu, 26 April 2015. Diana mengidap penyakit Bronkitis menahun dan Diana wafat karena terjatuh di kamar mandi ketika hendak mandi dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Usmar.
Mungkin Diana tak pernah menceritakan penyakitnya pada Usmar, karena ia yakin kalau ia menceritakannya pada Usmar, maka Usmar tak akan mau mengajaknya jalan-jalan setiap hari, bermain layang-layang, lari-larian, dan masih banyak lagi. Pasti Usmar akan menyuruhnya untuk beristirahat dan tak boleh kelelahan.
Maka hari-hari yang dilalui bersama Usmar adalah kesempatan Diana untuk menikmati sisa hidupnya bersama seseorang yang dapat membuatnya bahagia. Diana sudah tenang disisi-Nya tanpa merasakan sakit yang ia alami di dunia ini.

30-04-2015

SELESAI

9 komentar:

Unknown mengatakan...

Siip... jangan lupa mampir di blog ku juga ya. Mohabdulaziznawawi.blogspot.com

Unknown mengatakan...

Okeeey :)

ala_tiara mengatakan...

Suka sedih sndiri baca ending kyk bgitu :(

Hmm...
Blogger mampir blog k blog sya jga ya, ka syintia jga. Hehee..
tiaraps.blogspot.com

Unknown mengatakan...

Iyaa, nyesek ya hehe

Okeey sist Tiara :)

queenshellvy mengatakan...

Huaaa sedih bacanya siapain harus tissue nih...

Oiya don't forget juga mampir ke blog q ya ada ilmu2 bermanfaat tentang ekonomi syariah insyaAllah...let's visit me at shellvylukito.blogspot.com :)

Unknown mengatakan...

Iyaa mbak, sedia tisu dulu hehe

Siap mbak, makasih atas ilmunyaa :)

GuruAmir mengatakan...

bagus..jadi pengen coba buat cerita fiksi. ditunggu cerita lainnya. kalau ada waktu mampir juga ke blog ku http://shareilmumanfaat.blogspot.co.id

GuruAmir mengatakan...

bagus..jadi pengen coba buat cerita fiksi. ditunggu cerita lainnya. kalau ada waktu mampir juga ke blog ku http://shareilmumanfaat.blogspot.co.id

Unknown mengatakan...

Okee mas :