Kutemukan Cinta di
Sisa-sisa Hidupku
Pagi yang cerah, Diana sedang asyik
memperhatikan sepasang kekasih yang tengah belajar sambil menunjukn
kemesraannya, Diana merupakan siswi di Sekolah Menengah Atas PGRI Serpong,
Diana duduk di kelas 11. Diana selalu tersenyum dan menikmati hidupnya. Lalu, tiba-tiba seorang pria yang bernama
Usmar mendekat ke arah Diana yang sedang asyik memperhatikan pasangan tersebut.
Usmar juga siswa di sekolah yang sama dan sekelas dengan Diana.
“Kamu
ngapain sih, Diana?” ujar Usmar kepada Diana sambil kebingungan.
“Ya menurut
kamu aku sedang apa?” ucap Diana kepada Usmar dengan wajar sedikit bete karena
Usmar datang mengganggunya yang sedang asyik.
“Hmmm, kok
kamu nyebelin sih, Na. Kan aku basa-basi biar kamu gak malu banget kalau
ketahuan sama aku, kalau kamu lagi ngeliatin orang pacaran.” ujar Usmar sambil
tertawa dan mengacak-acak rambut Diana.
“Usmarrrrr,
ih kamu menyebalkan sekali, dateng-dateng hanya meledek aku saja.” Ucap Diana
sambil cemberut.
“Maafkan
aku, Diana. Aku tak bermaksud meledekmu.” Ujar Usmar dengan santainya sambil
tersenyum.
Kemudian
Diana dan Usmar terdiam, lalu mereka berdua saling memperhatikan pasangan
kekasih yang saat ini sedang berada di depan pandangan mereka. Sepasang kekasih
yang sedang belajar itu membuat mereka terhanyut dan berkhayal ingin menikmati
yang namanya “Pacaran”. Tiba-tiba Usmar berkata kepada Diana.
“Hmm, asyik
yah jika seperti mereka.” ucap Usmar.
“Iya, aku
berharap bisa menemukan pria yang bisa berbagi denganku, bisa belajar bersama
seperti mereka, bisa jalan-jalan berdua, ah pokoknya bisa bareng-bareng deh.”
ujar Diana dengan suara penuh harapan.
“Aku pun
berharap sepertimu Diana, dapat menemukannya.” ucap Usmar kepada Diana.
“Yuk
temuin-temuin.” ucap Diana sambil meledek dan tertawa.
“Yah
diledekin balik, ngomong-ngomong kayanya kita berdua doang nih yang jomblo,
sedih amat dah ah.” ucap Usmar sambil garuk-garuk kepala.
“Yeh lebay
amat sih! Bukan kita berdua doang kali, karena kebetulan cuma ada kita dan
mereka, ya berarti cuma kita yang jomblo dan yang lainnya lagi bahagia dengan
calon pacarnya mungkin.” ujar Diana.
“Iya pada
punya gebetan yah, kita mah apa atuh ya, Na.” ucap Usmar sambil bersedih.
“Usmar, aku
punya ide nih!” ucap Diana dengan penuh semangat.
“Apa? Kamu
punya ide apa? Bagus gak idenya?” ujar Usmar penasaran.
“Bagus dong,
ideku ini sangat cemerlang.” ucap Diana yang ingin membuat Usmar penasaran
dengan idenya.
“Apa, Diana?
Ah, kamu bikin aku penasaran aja sih!” ujar Usmar sedikit bete.
“Jadi, kita
buat permainan yuk! Kan kita sama-sama gak punya pacar nih, gimana kalau kita
pacaran. Kamu jadi pacar aku dan aku jadi pacar kamu. Gimana?” tanya Diana
kepada Usmar.
“Hmmm,
gimana ya? Duh tapi aku takut fans-fans aku sedih nih, karena aku punya pacar.”
ucap Usmar sambil tertawa.
“Apaan sih,
Mar. Gaya banget banyak fans, pacar aja gak punya apalagi fans.” ucap Diana
dengan nada penuh kejengkelan.
“Kamu mah
selalu gitu, meremehkan saja, eh tapi memang benar sih gak punya. Aku hanya
membual.” ucap Usmar dengan nada sedih.
“Emang
kenyataannya gitu kan.” ujar Diana.
“Iya, Diana.
Yaudah boleh juga permainannya. Lagian juga selama beberapa bulan kedepan aku
gak ada apa-apa.” ucap Usmar mengiyakan permainan Diana.
“Oke, kita
pacaran ya sekarang. Terus dimulai har ini kita pacarannya. Selamat hari
pertama jadian.” ujar Diana sambil tersenyum ke Usmar.
Dimulailah
hari pertama mereka jadian, kemudian setelah membuat kesepakatan untuk
berpacaran, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Usmar mengantar
Diana pulang ke Rumah.
Ketika malam hari membuat Diana
terbangun tepat pukul 12 malam. Diana selalu terbangun ditengah malam dan
selalu menangis menatap perihnya luka yang ia alami. Diana merupakan anak Broken Home. Diana tinggal dengan ayahnya
dan ia mempunyai seorang adik laki-laki. Tetapi, adik laki-lakinya ikut dengan
sang ibu.
Diana terlihat tegar dan menerima
semua kenyataan pahit dalam kehidupan keluarganya. Hidup dengan keadaan
orangtua yang sudah bercerai membuatnya begitu terpukul. Namun, kenyataan itu
membuatnya rapuh. Tetapi kerapuhan itu tak akan membuatnya kembali sempurna.
Dahulu ketika semuanya masih indah
dalam kehidupan Diana, Diana mempunyai seorang kekasih bernama Rama. Rama adalah
pria yang sangat dicintai oleh Diana. Sebelum Diana bersekolah di SMA PGRI
Serpong, Diana bersekolah di SMA Sudirman Jakarta. Dulu sebelum orangtua Diana
bercerai, mereka tinggal di Jakarta.
Diana dan Rama berpacaran sejak kelas
1 SMA, mereka berpacaran selama 1 tahun. Tetapi ketika ingin merayakan
anniversary yang ke-1 tahun, Rama menghianati Diana. Tanpa diduga, ketika
Diana ingin membelikan kado dan kue anniversarry mereka. Diana melihat Rama
bersama wanita lain di mall.
Sejak saat itu Diana memutuskan untuk
menyudahi hubungan yang telah mereka bina selama 1 tahun itu. Diana sudah tak
mau lagi bersama dengan seorang penghianat yang telah menyakitinya.
Tak lama setelah penghianatan yang
dilakukan oleh Rama, Diana juga harus menerima kenyataan pahit lagi bahwa ia
harus merelakan keputusan orangtuanya yang ingin bercerai. luka batin yang
dialami Diana membuatnya menangis sepanjang malam.
Kemudian setelah semua yang terjadi
kepada Diana, ia memilih untuk tinggal bersama ayahnya dan menetap di Bandung.
Diana melanjutkan sekolah di sana ketika kenaikan kelas 2 SMA. Sekarang Diana
sudah kelas 3 SMA.
Ketika pagi hari pun
datang.
“Tok tok tok
tok, selamat pagi, Diana.” suara Usmar terdengar jelas di balik pintu rumah
Diana.
“Hai, Usmar.
Kamu datang pagi sekali sih! aku belum siap tau, aku masih harus merapikan
rambut aku yang indah ini.” ucap Diana sambil tertawa dan menyisirkan
rambutnya.
“kalau
begitu, kamu masuk saja ya. Kamu ke dalam saja, di dalam ada ayah aku kok.
Bercerita-ceritalah dengannya. kalau begitu mari aku antar kamu bertemu dengan
ayahku.” Diana pun menarik tangan Usmar.
“Selamat
pagi, Om.” ucap Usmar ke Ayah Diana yang sedang membaca koran dan meminum kopi.
Ditarulah
kopi dan koran itu, lalu ayah Diana berkata “Iya pagi, ini siapa Diana? Kamu
teman Diana di sekolah ya? Siapa namamu?”.
“Saya Usmar,
Om. Iya teman sekelas Diana di sekolah.” jawab Usmar.
“Oh kalau
begitu silahkan duduk, Nak.” kata ayah Diana.
“Yaudah
kalian berdua selamat bercerita-cerita ya. Diana mau rapihin rambut dulu nih,
udah siang takut telat. Byeee Byeee. Tunggu sebentar ya Usmar.” ucap Diana
sambil berlari ke kamar.
Saat itu
mulailah ayah Diana dan Usmar bercakap-cakap. Ayah Diana menanyakan tentang
keluarga Usmar dan mereka saling bercanda ria. Tiba-tiba Diana datang dengan
rambut yang sudah tertata rapih.
“Hai kalian,
serius banget sih ngombrolnya. Aku udahan nih, yuk makan dulu cepatan nanti
kita terlambat.” ajak Diana.
setelah
makan pagi bersama akhirnya Diana dan Usmar berangkat ke sekolah bersama-sama.
Usmar membonceng Diana dengan sepeda motornya.
Setibanya di sekolah
dan memasuki kelas
“Untung kita tidak terlambat ya. Huh, di sana macet sekali.” ucap Diana
sambil menatap Usmar.
“Kita tidak
akan terlambat, Diana. Kan aku sudah mahir mengendarai motor dan melaju seperti
pembalat.” ucap Usmar sambil tertawa terbahak-bahak.
Diana hanya
menatap sinis Usmar. Kemudian, pelajaran pun di mulai dengan penuh canda tawa
dan keseriusan mereka dalam belajar.
Bel istirahat pun
berbunyi
“Yuk, kita ke kantik Diana yang cantik seperti bidadariku.” ujar Usmar
sambil merayu Diana.
“Yuk
penggombal, aku juga lapar nih. Cepat-cepat.” Diana pun menarik tangan Usmar.
Mereka pun
akhirnya makan di kantik dan dilanjutkan belajar di kelas dan menunggu bel
pulang sekolah berbunyi. Bel pun berbunyi.
“Diana, kita
jalan-jalan ke mall yuk.” ajak Usmar.
“Hmmm boleh,
aku juga malas pulang. pasti ayah belum pulang juga. Yuk jalan-jalan.” jawab
Diana.
Kemudian
mereka pun jalan-jalan ke salah satu mall di Bandung. Mereka makan di sana dan
Usmar membelikan es krim untuk Diana. Mereka pun asyik menikmati es krim dan
duduk di taman dekat mall itu. Usmar menempelkan es krim di hidung Diana,
kemudian mereka saling bercanda-canda.
Sungguh
kemesraan dan canda tawa bersama Usmar membuat Diana melupakan beban kesedihan
yang dulu pernah ia rasakan. Dalam benak Diana sekarang sudah tak ada kesedihan
yang mendalam. Sekarang hanya ada kebahagiaan yang ia rasakan, bersama usmar
dalam permainan ini membuatnya semakin dalam cinta yang tumbuh.
Sungguh ini
bukan seperti permainan biasa, Diana begitu mencintai Usmar. Permaianan ini
membuatnya tak berdaya melawan kenyataan bahwa Diana mencintai Usmar dengan
tulus.
Usmar pun
merasakan hal yang sama, ia juga memcintai Diana dengan semua hal yang mereka
lakukan bersama-sama. Kebersamaan itu membuat kisah cinta yang semula hanya
permainan, menjadi kenyataan cinta yang sesungguhnya.
Hari demi
hari telah mereka lalui, bulan bertemu bulan juga telah mereka lewati. tak
pernah ada rasa bosan sedikit pun, tak ada rasa gundah saat mereka bersama,
kebersamaan mereka lalui dengan penuh cinta. Akhirnya apa yang selama ini
mereka inginkan terjadi juga.
Keinginan
yang mereka selalu inginkan, keinginan mempunyai seorang kekasih yang bisa
bersama-sama menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.
Hari Sabtu siang di
rumah Diana
“Tok tok tok, permisi.” suara pria mengetuk pintu rumah Diana.
“Iya, siapa
ya?” Diana membuka pintu dan melihat sesosok pria bernama Rama dan Diana pun
tercengang.
“Hai, Diana.
Apa kabarmu? Aku rindu denganmu.” ucap Rama dengan halus.
“Hmmm, untuk
apa kau kemari? Kamu tahu darimana alamatku? Aku benci padamu, kumohon jangan
menggangguku lagi, aku sudah bahagia sekarang tanpamu.” jawab Diana dengan nada
keras.
“Aku tak
ingin mengganggumu, Di. Aku hanya rindu padamu dan ingin meminta maaf lagi
padamu. Aku meminta alamatmu pada Sonya, ia tahu alamatmu di Bandung. Maafkan
aku Diana.” ujar Rama sambil memohon.
“Hmmm, kamu
tahu rasanya jadi sepertiku? Kenapa kamu tega sekali Rama. Ah sudahlah, terima
kasih karena kamu sudah membantuku menembukan cinta sejati yang sesungguhnya.”
ucap Diana dengan wajah senyum sinis.
“Iya, Di.
Maafkan aku, aku ingin bercerita banyak denganmu. Kumohon izinkan aku masuk ke
dalam.” pinta Rama.
“Hmmm,
baiklah silakan masuk.” jawab Diana.
Akhirnya,
Rama pun mulai menceritakan tentang keadaannya dan meminta maaf kepada Diana.
Rama menyesal telah mengkhiananti Diana. Tapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur,
Rama tak berharap Diana akan kembali padanya. Rama pun tahu bahwa ada pria yang
telah bersama Diana dan membuatnya bahagia.
Kini Diana
dan Rama berteman baik, tak ada rasa benci yang dirasakan oleh Diana lagi.
Ketika mereka sedang berbicara di dalam, tiba-tiba Usmar datang k rumah Diana
dan melihat Diana sedang berduaan dengan pria lain. Usmar pun salah paham dan
marah kepada Diana.
“Usmar,
jangan pergi. Kamu salah paham.” ucap Diana sambil menangis.
“Usmar,
Kumohon kamu harus mendengarkan penjelasanku.” ujar Diana sambil menarik tangan
Usmar.
“Sudah, aku
tak mau tahu.” ucap Usmar.
“Sayang,
kamu sayang sama aku kan? Tolong dengarkan aku.” pinta Diana sambil menangis.
Kemudian,
Usmar pun mendengarkan penjelasan Diana. Lalu mereka bertiga akhirnya berbicara
satu sama lain. Diana menceritakan masa lalunya. Lalu, ketika semuanya sudah
selesai dan tak ada kesalah pahaman lagi. Akhirnya, Rama pamit untuk pulang ke
Jakarta. Usmar pun meminta maaf kepada Diana dan memeluk Diana erat. Lalu,
Usmar pun izin pulang.
Pada malam hari, Diana
sedang menerima telpon dari Usmar
“Besok kita lari pagi yuk?” ajak Usmar
“Yuk, besok
janjian di taman ya seperti biasa.” jawab Diana.
“Oke, I love
u, Diana. Don’t leave me!” ucap Usmar.
“Iya, I love
u too, Darling. In sha Allah aku tak ingin meninggalkanmu, tetapi jika Tuhan
berkehendak lain...” Diana memutuskan pembicaraan kata itu.
“Baiklah,
selamat malam, sampai jumpa esok.” sambung Diana.
Keesokan harinya
Usmar telah menunggu Diana di taman yang biasa mereka datangin, 2 jam
telah berlalu dan Diana tak juga datang. Hingga pada siang hari, Usmar tak
sabar karena Diana tak kunjung datang juga. Usmar memutuskan untuk menjemput
Diana di rumah.
Setibanya di rumah Diana, ada bendera kuning terpasang jelas di sudut Rumah Diana. Usmar
kaget dan mulai memasuki rumah Diana. Usmar melihat ayah Diana sedang menangis,
terlihat ada seorang perempuan seperti ibu Diana, dan adik laki-laki Diana.
Usmar menghampiri mereka dan kemudian
bertanya “Siapakah yang meninggal itu, Pak?” tanya Usmar.
“Nak, Diana sudah tiada di dunia ini
lagi, Diana sudah tenang disisi-Nya, semoga kamu mengikhlaskannya ya.” ucap
ayah Diana.
Usmar pun menangis dan tak menyangka
bahwa Diana begitu cepat meninggalkannya. Diana wafat pada hari Minggu, 26
April 2015. Diana mengidap penyakit Bronkitis menahun dan Diana wafat karena
terjatuh di kamar mandi ketika hendak mandi dan bersiap-siap untuk bertemu
dengan Usmar.
Mungkin Diana tak pernah menceritakan
penyakitnya pada Usmar, karena ia yakin kalau ia menceritakannya pada Usmar,
maka Usmar tak akan mau mengajaknya jalan-jalan setiap hari, bermain
layang-layang, lari-larian, dan masih banyak lagi. Pasti Usmar akan menyuruhnya
untuk beristirahat dan tak boleh kelelahan.
Maka hari-hari yang dilalui bersama
Usmar adalah kesempatan Diana untuk menikmati sisa hidupnya bersama seseorang
yang dapat membuatnya bahagia. Diana sudah tenang
disisi-Nya tanpa merasakan sakit yang ia alami di dunia ini.
30-04-2015
SELESAI
9 komentar:
Siip... jangan lupa mampir di blog ku juga ya. Mohabdulaziznawawi.blogspot.com
Okeeey :)
Suka sedih sndiri baca ending kyk bgitu :(
Hmm...
Blogger mampir blog k blog sya jga ya, ka syintia jga. Hehee..
tiaraps.blogspot.com
Iyaa, nyesek ya hehe
Okeey sist Tiara :)
Huaaa sedih bacanya siapain harus tissue nih...
Oiya don't forget juga mampir ke blog q ya ada ilmu2 bermanfaat tentang ekonomi syariah insyaAllah...let's visit me at shellvylukito.blogspot.com :)
Iyaa mbak, sedia tisu dulu hehe
Siap mbak, makasih atas ilmunyaa :)
bagus..jadi pengen coba buat cerita fiksi. ditunggu cerita lainnya. kalau ada waktu mampir juga ke blog ku http://shareilmumanfaat.blogspot.co.id
bagus..jadi pengen coba buat cerita fiksi. ditunggu cerita lainnya. kalau ada waktu mampir juga ke blog ku http://shareilmumanfaat.blogspot.co.id
Okee mas :
Posting Komentar